Kamis, 26 Juli 2012

Vaksin Demam Berdarah Dengue Pertama di Dunia Sudah Ditemukan



Jakarta, Untuk pertama kalinya di dunia, vaksin demam berdarah berhasil ditemukan. Vaksin ini kabarnya ampuh mengobati 3 dari 4 strain virus demam berdarah. Saat ini, sang produsen obat tengah menunggu hasil uji klinis yang dilakukan di Thailand untuk mengetahui keampuhannya mengobati strain ke-4.

Demam berdarah dengue tumbuh subur di kota-kota daerah tropis dan mengancam hampir setengah populasi dunia. WHO secara resmi menyebutkan bahwa kasus infeksi yang terjadi sebanyak 50 - 100 juta per tahun. Diperkirakan, sebanyak 20.000 orang meninggal akibat penyakit ini setiap tahun, kebanyakan di antaranya adalah anak-anak.

Perusahaan farmasi asal Perancis, Sanofi SA, melakukan langkah besar dalam upaya mengatasi wabah demam berdarah dengue. Vaksin demam berdarah dengue sudah berusaha dibuat sejak 70 tahun terakhir, namun belum membuahkan hasil yang memuaskan. Setelah hasil uji keamanan obat rampung, vaksin ini rencananya akan diluncurkan ke pasar pada tahun 2015.

Penyakit demam berdarah dengue dapat disebabkan oleh 4 jenis virus. Vaksin keluaran Sanofi diharapkan mampu merespon kempat jenis virus tersebut, tetapi saat ini baru terbukti berhasil mengatasi 3 dari 4 strain besar virus yang merebak di Thailand.

"Ini kejutan. Kita perlu melihat semua data yang berhasil terkumpulkan untuk mencari tahu reaksinya dan menunggu percobaan Tahap III yang sedang berlangsung untuk melihat apakah obat ini sesuai dengan beberapa situasi tertentu yang dijumpai di Thailand," kata juru bicara perusahaan, Pascal Barollier seperti dilansir Reuters, Kamis (26/7/2012).

Fase uji coba sebelumnya melibatkan 4.002 anak-anak di Thailand berusia 4 - 11 tahun dan dilakukan selama musim wabah demam berdarah. Awalnya vaksin ini akan diluncurkan pada tahun 2014. Namun karena belum begitu dapat mengatasi virus strain keempat, maka peluncurannya lebih mungkin dilakukan pada tahun 2015.

Sayangnya perusahaan belum bersedia memberikan detail tentang efektifitas perlindungan dari vaksin ini. Data yang sekarang sedang dikaji oleh para ilmuwan dan pejabat kesehatan rencananya akan diterbitkan secara detail pada akhir tahun 2012.

Barollier mengatakan, hasil penelitian akan dipublikasikan dalam jurnal ilmiah pada bulan September 2012 dan kemudian dipresentasikan dalam pertemuan American Society of Tropical Medicine and Hygiene di Atlanta, AS pada bulan November 2012.

Sanofi telah menginvestasikan dana sebesar 350 juta euro atau sekitar Rp 4 triliun untuk membuat vaksin ini. Perusahaan percaya produknya bisa menghasilkan penjualan lebih dari 1 miliar euro setiap tahun. Meskipun demikian, penggunaan vaksin akan tergantung pada tingkat kepercayaan dokter terhadap kehandalan vaksin dalam melindungi populasi yang berisiko.

Putro Agus Harnowo - detikHealth


1 komentar: