Minggu, 15 Oktober 2017

LIRIK LAGU " SAYANG " VIA VALLEN








Via Vallen

SAYANG,
OPO KOWE KRUNGU JERITE ATIKU
MENGHARAP ENGKAU KEMBALI
SAYANG,
NGANTI MEMUTIH RAMBUTKU
RA BAKAL LUNTUR TRESNAKU

WIS TAK COBO NGLALEK'AKE JENENGMU SOKO ATIKU
SAK TENANE RA NGAPUSI ISIH TRESNO SLIRAMU
DUKO PUJANE ATI INGKANG KOWE ORA NGERTI
KOWE WIS TAK WANTI WANTI
MALAH JEBUL SAK'IKI KOE BLENJANI JANJI
JARE SEHIDUP SEMATI NANGING OPO BUKTI
KOE MEDOT TRESNOKU DEMI WEDOK'AN LIYO
YOWIS RA POPO INSYAALLAH AKU ISO , LILO

MEH SAMBAT KALIH SINTEN YEN SAMPUN MEKATEN
MERANAURIPKU
AKU WELASNO KANGMAS ..... AKU MESAKNO AKU
AKU NANGIS, NGANTI METU LUH GETIH PUTIH

REFF..."::
SAYANG,
OPO KOE KRUNGU, JERITE ATIKU
MENGHARAP ENGKAU KEMBALI
SAYANG,
NGANTI MEMUTIH RAMBUTKU
RA BAKAL LUNTUR TRESNAKU
HARI DEMI HARI UWIS TAK LEWATI
YEN DALANE KUDU KUAT ATI
IBARATE SEGO UWIS DADI BUBUR
NANGING TRESNO IKU ORA BAKAL LUNTUR
SAK TENANE AKU IKI PANCEN TRESNO AWAKMU
ORA ONO LIYANE SING ISO DADI PENGGANTIMU
WIS KANGGO AWAKMU SING COCOK NING ATIKU
NGANTI RAMBUTKU PUTIH ATIMU RA BAKAL KRUNGU

MEH SAMBAT KALIH SINTEN YEN SAMPUN MEKATEN
MERANA URIPKU
AKU WELASNO KANGMAS.....AKU MESAKNO AKU
AKU NANGIS, NGANTI METU LUH GETIH PUTIH

SAYANG OPO KOWE KRUNGU TANGISE ATIKU
MENGHARAP KOE BALI NING NJERO ATI IKI
NGANTI RAMBUTKU PUTIH TANGIS ELUH DADI GETIH
MBOK YO GIK NDANG BALI NGLAKONI TRESNO SUCI
AKU MARANG SLIRAMU JERONING ATI
AKU RA ISO NGAPUSI SAK TENANE NING ATI
MUNG KANGGO SLIRAMU
CINTAKU TETEP ABADI
SELAMANYA SAMPAI AKHIR HAYAT INI

MEH SAMBAT KALIH SINTEN YEN SAMPUN MEKATEN
MERANA URIPKU
AKU WELASNO KANGMAS......AKU WELASNO AKU
AKU NANGIS, NGANTI METU LUH GETIH PUTIH

PERCOYO OPO PEMUJAMU

CINTAMU TETAP ABADI





















Senin, 09 Oktober 2017

KOPI DAN TEH BAIK UNTUK WANITA PENDERITA DIABETES


Foto: thinkstock Foto: thinkstock
Jakarta - Kopi dan teh ternyata punya efek baik bagi penderita diabetes, khususnya wanita. Sebuah studi menunjukkan minum kopi atau teh secara teratur bisa menurunkan risiko kematian pada wanita penderita diabetes.

Dilansir dari The IndianExpress (14/9), sebuah penelitian dilakukan untuk mengetahui peran kafein terhadap kematian penderita diabetes. Peneliti dari Universitas Porto di Portugal mencoba mencari tahu hubungan antara berbagai tingkat asupan kafein dan kematian. Ada lebih dari 3.000 partisipan pria dan wanita pengidap diabetes dari tahun 1999 sampai 2010 yang terlibat dalam penelitian.

Kopi dan Teh Baik untuk Wanita Penderita Diabetes, Ini Kesimpulan StudinyaFoto: Thinkstock


Peserta melaporkan asupan kafein mereka dari kopi, teh, dan minuman ringan melalui wawancara terstruktur. Ini dilakukan untuk menilai asupan secara akurat selama 24 jam sebelumnya.

Selama 11 tahun penelitian, 618 orang dinyatakan meninggal. Namun para periset menemukan bahwa wanita dengan diabetes yang mengonsumsi kafein hingga 100mg per hari, 51% lebih kecil kemungkinan meninggal. Daripada mereka yang tidak mengonsumsi kafein.

Sedangkan wanita yang mengonsumsi 100-200mg kafein per hari memiliki risiko kematian 57% lebih rendah dibandingkan yang mengonsumsinya. Untuk mereka yang mengonsumsi lebih dari 200mg per hari (2 cangkir kopi biasa) penurunan risiko kematian adalah 66%. Meski begitu, tidak ada efek menguntungkan dari konsumsi kafein yang tercatat pada pria dengan diabetes.

Baca juga: Jika Minum Minimal Dua Cangkir Kopi Sehari Bisa Kurangi Risiko Kanker Hati

Disisi lain, ada penurunan angka kematian terkait kanker di kalangan wanita yang mengonsumsi lebih banyak kafein dari teh.

Ketika dibagi menjadi empat kelompok konsumsi teh (nol, rendah, sedang, tinggi), kafein yang tinggi dari penikmat teh memiliki 80% penurunan risiko kanker. Dibandingkan dengan wanita dengan konsumsi kafein nol dari teh.

Kopi dan Teh Baik untuk Wanita Penderita Diabetes, Ini Kesimpulan StudinyaFoto: Thinkstock


Namun, karena konsumsi teh secara keseluruhan rendah dalam penelitian ini, hasilnya harus ditafsirkan dengan hati-hati. Sehingga memerlukan konfirmasi dalam penelitian yang lebih besar, kata periset.

Mereka juga mengatakan, "Studi kami menunjukkan efek perlindungan tergantung dosis dari konsumsi kafein terhadap semua penyebab kematian di kalangan wanita. Efek pada kematian tampaknya bergantung pada sumber kafein, dengan efek perlindungan dari konsumsi kopi pada semua penyebab kematian dan kematian kardiovaskular, dan efek perlindungan kafein dari teh terhadap kematian akibat kanker di kalangan wanita dengan diabetes." (msa/odi)

Senin, 02 Oktober 2017

KISAH NYATA, PENGGALI KUBUR TIDURI JENAZAH GADIS

Dream - Ini kisah yang tertulis dalam kitab Mukasyafah Al Qulub, karangan Imam Ghazali. Cerita tentang pemuda penggali makam yang suka mencuri kafan pembungkus jasad yang telah dia kuburkan.
Pada suatu hari, dia mencuri kain kafan jenazaha seorang gadis yang baru dikuburkan. Namun, saat itu membuat nafsunya bangkit. Pemuda itu lalu menyetubuhi jasad gadis itu.
Namun, pemuda itu kemudian menyesal. Dia terus menangis di depan rumah Rasulullah. Sehingga terlihat Umar Al-Khattab dan membuatnya menghadap Rasulullah SAW sambil menangis.
Melihat Umar menangis, Rasulullah bertanya, " Wahai Umar, apakah yang membuat engkau hingga menangis seperti ini?"
Jawab Umar, " Ya Rasulullah, ada seorang di muka pintu ini yang yang sudah membakar hatiku."
Berkata Rasulullah, " Ya Umar, bawalah ia masuk." Lalu Umar membawa pemuda yang tengah menangis itu masuk.
Bertanya Rasulullah, " Apakah yang sudah engkau kerjakan hingga engkau menangis?"
Pemuda itu menjawab, " Wahai Rasulullah, saya telah lakukan dosa yang besar! Saya sangat takut pada Allah SWT yang sangat murka kepadaku."
" Apakah Anda mempersekutukan Allah?"
" Tidak Ya Rasulullah."
" Apakah Anda membunuh jiwa yang Anda tiada hak membunuhnya?"
" Tidak Ya Rasulullah."
" Allah akan mengampunkan dosa anda meskipun sebesar tujuh petala langit dan bumi dan bukit-bukit."
" Wahai Rasul Allah, saya sudah lakukan dosa yang lebih besar dari langit, bumi dan bukit-bukitnya."
" Apakah dosamu itu semakin besar dari Arsy?"
" Dosaku lebih besar." 
 Entah apa yang dipikirkannya, pria tersebut gemar mencuri kain kafan milik jenazah yang telah ia kuburkan. Hingga pada suatu hari jenazah seorang gadis membuat nafsunya membuncah dan menjadi seperti ini.

Maklum sebagai manusia, dimana gemar sekali menilai orang bukan dari apa yang telah mereka pahami betul-betul, namun hanya dari sekejap mata saja dan melongok dari luar sampulnya. Sehingga yang terjadi adalah seakan menjudge orang tersebut benar-benar bersalah. Bukan hanya kita, Rasulullah pun pernah melakukan hal tersebut secara tak sadar, dan memang jika kita mendengar kisahnya pasti kita juga berpikiran sama.
 Seperti apa kisahnya?

Disuatu hari Saiyidina Umar Al-Khattab menghadap Rasulullah S A.W sambil menangis, jadi bertanyalah Rasulullah “Wahai Umar, apakah yang membuat engkau hingga menangis seperti ini?

Jawab Umar ” Ya Rasulullah, ada seorang di muka pintu ini yang yang sudah membakar hatiku.

Berkata Rasulullah ” Ya Umar, bawalah ia masuk.” Lalu Umar membawa pemuda yang tengah menangis itu masuk.

Bertanya Rasulullah “Apakah yang sudah engkau kerjakan hingga engkau menangis?

Pemuda itu menjawab “Wahai Rasulullah, saya telah lakukan dosa yang besar! Saya sangat takut pada Allah S.W.T yang sangat murka kepadaku.

Apakah anda mempersekutukan Allah?

Tidak Ya Rasulullah.

Apakah anda membunuh jiwa yang anda tiada hak membunuhnya?

Tidak Ya Rasulullah.

Allah akan mengampunkan dosa anda meskipun sebesar tujuh petala langit dan bumi dan bukit-bukit.

Wahai Rasul Allah, saya sudah lakukan dosa yang lebih besar dari langit, bumi dan bukit-bukitnya.

Apakah dosamu itu semakin besar dari Al-Kursi?

Dosaku lebih besar.”

Apakah dosamu semakin besar dari Arsy?

Dosaku semakin besar.”

Apakah dosamu lebih besar dari maaf Allah?

Maafnya lebih besar?

Sesungguhnya tidak bisa mengampun dosa besar kecuali Allah yang Maha Besar, yang besar pengampunan-Nya.” Rasulullah bersabda lagi “Katakanlah wahai pemuda, dosa apakah yang sudah engkau lakukan?

Saya malu akan memberitahumu, Ya Rasulullah.

Rasulullah bertanya dengan kuat “Beritahu saya apakah dosamu itu?

Begini Ya Rasulullah, kerjaku yaitu sebagai penggali kubur. Saya sudah lakukan kerja menggali kubur selam 7 tahun. Disuatu hari, saya menggali kubur seorang gadis dari kaum Ansar. Setelah saya menanggalkan kain kafannya, jadi saya tinggalkan ia. Tak jauh saya meninggalkannya, jadi naiklah nafsuku. Oleh kerana tidak bisa menahan nafsu, saya kembali pada mayat itu lantas akupun menyetubuhinya. Setelah saya memuaskan nafsu, jadi saya tinggalkan dia. Belum jauh saya mengedar dari situ, tiba-tiba gadis itu bangun dan berkata, ‘Celaka benar anda wahai pemuda! Bukankah anda berasa malu pada Tuhan yang bakal membalas pada hari pembalasan kelak! Apabila tiba masanya setiap orang yang zalim bakal dituntut oleh yang teraniaya! Kau biarlah saya telanjang serta kau hadapkan saya pada Allah S. W. T dalam kondisi junub!’

Usai Rasulullah mendengar info dari pemuda itu, dengan segera Rasulullah bangun sembari bersabda “Hai orang yang fasik!, memang layak anda masuk neraka dan keluarlah anda dari sini

Sepanjang 40 hari pemuda itu memohon ampun pada Allah dan saat malam ke 44, ia melihat ke langit sambil berdoa “Ya Allah, Tuhan pada Rasulullah, Nabi Adam dan Udara, bila Engkau sudah mengampunkannu, jadi beritahulah Rasulullah S.A.W dan para sahabatnya. Bila tak, jadi kirimkan pada saya api dari langit dan bakarlah saya didunia ini dan selamatkan saya dari seksa akhirat.”

Tak berapakah lama selepas momen itu, turunlah Malaikat Jibril A.S menjumpai Rasulullah. Selepas berikan salam Jibril A. S berkata “Wahai Muhammad, Tuhanmu berikan salam padamu.
Jawab Rasulullah S.A.W “Dialah Assalam dan daripada-Nya salam dan kepada-Nya semua keselamatan.”

Allah bertanya, apakah anda yang jadikan makhluk?

Dialah Allah yang jadikan segala makhluk.

Adakah anda yang memberi rejeki pada makhluk?

“Dialah Allah yang memberi rejeki pada saya dan makhluk-makhluk yang lain.”

Apakah anda berikan taubat pada mereka?

Dialah Allah yang terima taubat dariku dan mereka.

Allah berfirman, maafkanlah hamba-Ku itu kerana Saya sudah memaafkannya.

Jadi segera baginda memanggil pemuda itu dan menjelaskan padanya bahawa Allah sudah terima taubatnya dan memaafkannya.

Nabi pernah mengalami hal seperti itu dan langsung ditegur oleh Allah SWT, apalagi ketika kita yang mencela dan mengolok-olok mereka yang notabene suka berperilaku kasar, gemar mengerjakan dosa, dan juga tak pernah beribadah. Ketahuilah bahwa mereka bisa saja bertaubat dan memohon ampun kepada Allah SWT, dan ketika mereka telah berubah untuk tak lagi mendekati dosa, maka bisa jadi mereka lebih baik dari kita yang mengaku setiap hari berbuat kebaikan.

Senin, 29 Mei 2017

SAHABAT NABI INI MASIH HIDUP SAMPAI SAAT INI

Pohon berumur ribuan tahun dan dijuluki "The Only Living Sahabi" yang berarti "Sahabat Nabi yang Masih Hidup" ini sampai sekarang tegak berdiri di sebelah utara Yordania. Pohon ini satu-satunya pohon yang hidup di tengah padang pasir tersebut.


Dikutip dari berbagai sumber, diketahui dua kali Rasulullah bernaung di bawah pohon yang diberkahi Allah ini. Pertama saat beliau berumur 12 tahun, ketika melakukan perjalanan bersama pamannya Abu Thalib. Saat itulah seorang pendeta bernama Bahira melihat tanda kerasulan pada Nabi Muhammad SAW.
Dalam kisah tersebut, Bahira melihat rombongan kafilah pedagang dari Mekah bersama seorang bocah yang saat berjalan selalu dinaungi awan. Kemudian Bahira mengundang para pedagang tersebut ke kediamannya untuk dijamu.
Semua anggota rombongan mengikuti acara perjamuan tersebut, kecuali satu anak yang menunggu di bawah pohon. Bahira melihat keluar dan meminta salah seorang dari rombongan tersebut untuk membawa anak tersebut hadir ke perjamuannya.
Kemudian Bahira berpesan kepada Abu Thalib untuk menjaga dan segera membawa anak itu kembali ke Mekkah. Karena, orang-orang yahudi akan mencari anak tersebut untuk menyakitinya.
Kali kedua, saat Rasulullah membawa barang dagangan milik Sayyidatina Khadijah ke Busra, Ketika Rasulullah berteduh di bawah pohon ini, dahan dan ranting-ranting pohon ini bergerak menaungi beliau dari panasnya terik matahari.
Lihatlah, sampai sekarang satu-satunya pohon yang masih hidup, tegak, subur dan rimbun di tengah-tengah padang pasir bernama Al Buqayawiyya ini. Inilah sebuah pohon yang diberkahi.
Banyak pohon yang menyaksikan beberapa peristiwa dari perjalanan hidup Rasulullah yang mulia. Salah satunya pohon Nabi ini, menjadi salah satu bukti kenabian Nabi Muhammad SAW. Sepertinya pohon Nabi ini sengaja dibiarkan hidup agar menjadi pengingat, kenangan dan bukti sejarah.

KISAH HIDUP USTMAN IBN AFFAN

Utsman bin Affan (bahasa Arab: عثمان بن عفان, 574 – 656 / 12 Dzulhijjah 35 H; umur 81–82 tahun) adalah sahabat Nabi Muhammad SAW yang termasuk Khulafaur Rasyidin yang ke-3. Utsman adalah seorang yang saudagar yang kaya tetapi sangatlah dermawan. Ia juga berjasa dalam hal membukukan Al-Qur'an.

Ia adalah khalifah ketiga yang memerintah dari tahun 644 (umur 69–70 tahun) hingga 656 (selama 11–12 tahun). Selain itu sahabat nabi yang satu ini memiliki sifat yang sangat pemalu.

Utsman bin Affan adalah sahabat nabi dan juga khalifah ketiga dalam Khulafaur Rasyidin. ia dikenal sebagai pedagang kaya raya dan ekonom yang handal namun sangat dermawan. Banyak bantuan ekonomi yang diberikannya kepada umat Islam di awal dakwah Islam. Ia mendapat julukan Dzunnurain yang berarti yang memiliki dua cahaya. Julukan ini didapat karena Utsman telah menikahi puteri kedua dan ketiga dari Rasullah Saw yaitu Ruqayah dan Ummu Kaltsum.

Usman bin Affan lahir pada 574 Masehi dari golongan Bani Umayyah. Nama ibunya adalah Arwa binti Kuriz bin Rabiah. ia masuk Islam atas ajakan Abu Bakar dan termasuk golongan As-Sabiqun al-Awwalun (golongan yang pertama-tama masuk Islam). Rasulullah Saw sendiri menggambarkan Utsman bin Affan sebagai pribadi yang paling jujur dan rendah hati di antara kaum muslimin. Diriwayatkan oleh Imam Muslim bahwa Aisyah bertanya kepada Rasulullah Saw, ‘Abu Bakar masuk tapi engkau biasa saja dan tidak memberi perhatian khusus, lalu Umar masuk engkau pun biasa saja dan tidak memberi perhatian khusus. Akan tetapi ketika Utsman masuk engkau terus duduk dan membetulkan pakaian, mengapa?’ Rasullullah menjawab, “Apakah aku tidak malu terhadap orang yang malaikat saja malu kepadanya?”

Pada saat seruan hijrah pertama oleh Rasullullah Saw ke Habbasyiah karena meningkatnya tekanan kaum Quraisy terhadap umat Islam, Utsman bersama istri dan kaum muslimin lainnya memenuhi seruan tersebut dan hijrah ke Habasyiah hingga tekanan dari kaum Quraisy reda. Tak lama tinggal di Mekah, Utsman mengikuti Nabi Muhammad Saw untuk hijrah ke Madinah. Pada peristiwa Hudaibiyah, Utsman dikirim oleh Rasullah untuk menemui Abu Sofyan di Mekkah. Utsman diperintahkan Nabi untuk menegaskan bahwa rombongan dari Madinah hanya akan beribadah di Ka'bah, lalu segera kembali ke Madinah, bukan untuk memerangi penduduk Mekkah.

Pada saat Perang Dzatirriqa dan Perang Ghatfahan berkecamuk, dimana Rasullullah Saw memimpin perang, Utsman dipercaya menjabat walikota Madinah. Saat Perang Tabuk, Utsman mendermakan 1000 ekor unta dan 70 ekor kuda, ditambah 1000 dirham sumbangan pribadi untuk perang Tabuk, nilainya sama dengan sepertiga biaya perang tersebut. Utsman bin Affan juga menunjukkan kedermawanannya tatkala membeli mata air yang bernama Rumah dari seorang lelaki suku Ghifar seharga 35.000 dirham. Mata air itu ia wakafkan untuk kepentingan rakyat umum. Pada masa pemerintahan Abu Bakar, Utsman juga pernah memberikan gandum yang diangkut dengan 1000 unta untuk membantu kaum miskin yang menderita di musim kering.

Setelah wafatnya Umar bin Khattab sebagai khalifah kedua, diadakanlah musyawarah untuk memilik khalifah selanjutnya. Ada enam orang kandidat khalifah yang diusulkan yaitu Ali bin Abi Thalib, Utsman bin Affan, Abdul Rahman bin Auf, Sa’ad bin Abi Waqas, Zubair bin Awwam dan Thalhah bin Ubaidillah. Selanjutnya Abdul Rahman bin Auff, Sa’ad bin Abi Waqas, Zubair bin Awwam, dan Thalhah bin Ubaidillah mengundurkan diri hingga hanya Utsman dan Ali yang tertinggal. Suara masyarakat pada saat itu cenderung memilih Utsman menjadi khalifah ketiga. Maka diangkatlah Utsman yang berumur 70 tahun menjadi khalifah ketiga dan yang tertua, serta yang pertama dipilih dari beberapa calon. Peristiwa ini terjadi pada bulan Muharram 24 H. Utsman menjadi khalifah di saat pemerintah Islam telah betul-betul mapan dan terstruktur.

ia adalah khalifah kali pertama yang melakukan perluasan masjid al-Haram (Mekkah) dan masjid Nabawi (Madinah) karena semakin ramai umat Islam yang menjalankan rukun Islam kelima (haji). ia mencetuskan ide polisi keamanan bagi rakyatnya; membuat bangunan khusus untuk mahkamah dan mengadili perkara yang sebelumnya dilakukan di masjid; membangun pertanian, menaklukan Syiria, Afrika Utara, Persia, Khurasan, Palestina, Siprus, Rodhes, dan juga membentuk angkatan laut yang kuat. Jasanya yang paling besar adalah saat mengeluarkan kebijakan untuk mengumpulkan Al-Quran dalam satu mushaf.

Selama masa jabatannya, Utsman banyak mengganti gubernur wilayah yang tidak cocok atau kurang cakap dan menggantikaannya dengan orang-orang yang lebih kredibel. Namun hal ini banyak membuat sakit hati pejabat yang diturunkan sehingga mereka bersekongkol untuk membunuh khalifah.

Masuk islam


Utsman bin Affan ra. masuk Islam melalui dakwah Abu Bakar ra. ash-Shiddiq. Beliau adalah orang pertama yang hijrah ke negri Ethiopia bersama istrinya Ruqayah binti Rasulullah saw. kemudian kembali ke Makkah dan hijrah ke Madinah. Beliau tidak dapat ikut serta pada perang Badar karena sibuk mengurusi putri Rasulullah saw. (istri beliau) yang sedang sakit. jadi beliau hanya tinggal di Madinah. Rasulullah saw. Memberikan bagian dari harta ram-pasan dan pahala perang tersebut kepada beliau dan beliau dianggap ikut serta dalam peperangan. Ketika istri beliau meninggal, Rasulullah saw. menikahkannya dengan adik istrinya yang bernama Ummu Kaltsum yang pada akhirnya juga meninggal ketika masih menjadi istri beliau. Beliau ikut serta dalam peperangan Uhud,

Khandaq, Perjanjian Hudaibiyah yang pada waktu itu Rasulullah saw. membai’atkan untuk Utsman dengan tangan beliau sendiri. Utsman bin Affan ra. juga ikut serta dalam peperangan Khaibar, Tabuk, dan beliau juga pernah memberikan untuk pasukan ‘Usrah sebanyak tiga ratus ekor unta dengan segala perlengkapannya.Dari  Abdurrahman bin Samurah bahwa pada suatu hari Utsman bin Affan ra. Datang membawa seribu dinar dan meletakkannya di kamar Rasulullah saw. Rasulullah saw. bersabda, ” Tidak ada dosa bagi Utsman setelah ia melakukan ini (diucapkan dua kali).”665

Rasulullah saw. pergi menunaikan haji Wada’ bersama beliau. Rasulullah saw. wafat dalam keadaan ridha terhadap Utsman bin Affan ra.. Kemudian beliau menemani Abu Bakar ra. dengan baik dan Abu Bakar ra. wafat dalam keadaan ridha terhadap Utsman bin Affan ra.. Beliau menemani Umar ra. dengan baik dan Umar ra. wafat dalam keadaan ridha terhadap Utsman bin Affan ra., serta menetap-kan bahwa beliau adalah salah seorang dari enam orang anggota Syura dan beliau sendiri adalah orang yang paling istimewa di antara anggota lainnya. Utsman bin Affan ra. menjadi khalifah setelah Umar ra.. banyak menaklukkan berbagai negara melalui tangan beliau. Semakin lebarlah wilayah negara Islam dan bertambah luaslah negara Muhammadiyah ini serta sampailah misi Rasulullah saw. Ke sebelah timur dan barat bumi ini. Nampaklah kebenaran Firman Allah SWT. ,“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang shAli ra.h bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhaiNya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan merobah (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembahKu dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang yangfasik.” (An-Nur: 55). Firman Allah SWT. , “Dia-lah yang mengutus RasulNya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar Dia memenangkannya di atas segala agama-agama meskipun orang-orang musyrik bend.“ (Ash-Shaf: 9).

Rasulullah saw. bersabda: “jika Kaisar mati maka tida lagi kaisar setelahnya dan jika Kisra meninggal maka tiada lagi Kisra setelahnya, demi Allah yang jiwaku berada di tangan-Nya harta-harta karun mereka akan di gunakan untuk perang di jalan Allah.”666 Semua ini terjadi dan terbukti pada zaman Utsman bin Affan ra..



Khalifah Utsman kemudian dikepung oleh pemberontak selama 40 hari dimulai dari bulan Ramadhan hingga Dzulhijah. Beliau diberi 2 ulimatum oleh pemberontak, yaitu mengundurkan diri atau dibunuh. Meski Utsman mempunyai kekuatan untuk menyingkirkan pemberontak, namun ia berprinsip untuk tidak menumpahkan darah umat Islam. Utsman akhirnya wafat sebagai syahid pada bulan Dzulhijah 35 H ketika para pemberontak berhasil memasuki rumahnya dan membunuh Utsman saat sedang membaca Al-Quran. Persis seperti apa yang disampaikan Rasullullah Saw perihal kematian Utsman yang syahid nantinya. peristiwa pembunuhan usman berawal dari pengepungan rumah usman oleh para pemberontak selama 40 hari.usman wafat pada hari Jumat 18 Dzulhijjah 35 H . ia dimakamkan di kuburan Baqi di Madinah.

Kabar Gembira Bahwa Beliau Mati Syahid

Diriwayatkan dari Qatadah bahwa Anas bin Malik berkata, “Rasulullah saw. memanjat gunung Uhud bersama Abu Bakar ra., Umar ra. dan Utsman lantas gunung

tersebut bergetar. Beliau bersabda: “Tenanglah wahai Uhud! -aku perkirakan beliau menghentakkan kakiny tidak ada siapa-siapa di atasmu melainkan hanya seorang Nabi, Ash-Shiddiq dan dua orang syahid.“

Minggu, 14 Mei 2017

PENGERTIAN KEPANGKATAN DALAM PNS, ESELON DAN GOLONGAN


 

Apa itu kepangkatan dalam PNS, apa yg dimaksud dengan golongan, apa yg dimaksud dg eselon. kalau tamat SD, SMP, SMA, D3, S1, apa pangkatnya kalau dingakat jadi PNS.
kemarin saya belum tau pengertian semua itu, saya tanyakan pada yg sudah jadi PNS pun mendapatkan jawaban yg belum memuaskan. browsing di google akhirnya menemukan jawaban yg lengkap. mungkin anda juga sama seperti saya kemaren belum tau mengenai kepangkatan dalam PNS, baik anda sudah jadi PNS atau belum. berikut ini adalah penjelasan serta sumber artikelnya.

Dalam pengelolaan Pegawai Negeri Sipil (selanjutnya disebut PNS), hingga saat ini dikenal adanya 17 jenjang KEPANGKATAN (bisa dilihat antara lain dalam Keputusan Kepala Badan Kepegawaian Negara Nomor 11 Tahun 2001 tentang Ketentuan Pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 99 Tahun 2000 tentang Kenaikan Pangkat Pegawai Negeri, Lampiran I).
Jenjang kepangkatan itu dapat dibagi menjadi: 1) kelompok “JURU”, 2) kelompok “PENGATUR”, 3) kelompok “PENATA”, dan 4) kelompok “PEMBINA”.

Sering terjadi jenjang kepangkatan ini lebih banyak dipahami semata-mata sebagai panduan penggajian. Kalau si Badu sudah mencapai pangkat Penata, maka gajinya lebih besar dari si Amir yang pangkatnya baru Pengatur. Tapi, apa perbedaan kontribusi yang mesti diberikan Badu dan Amir dengan jenjang pangkat yang berbeda? Itu yang kadang belum tertangkap dengan jelas.

Oleh karena itu alangkah baiknya jika pangkat dengan penamaan seperti di atas secara tegas mencerminkan pula tuntutan peran yang berbeda dari pengembannya. Dengan begitu, masing-masing orang paham bahwa dirinya bertanggungjawab mengkontribusikan sesuatu sesuai dengan jenjang pangkatnya sehingga menjadi wajar bahwa gaji yang diterima pun menjadi berbeda.

Berikut sebuah gagasan lptui tentang MAKNA KEPANGKATAN PNS:

1. JURU

JURU merupakan jenjang kepangkatan untuk PNS Golongan I/a hingga I/d dengan sebutan secara berjenjang: JURU MUDA, JURU MUDA TINGKAT I, JURU, dan JURU TINGKAT I. Jika dilihat dari persyaratan golongannya maka yang menempati golongan ini adalah mereka dengan pendidikan formal jenjang Sekolah Dasar, Sekolah Lanjutan Pertama, atau yang setingkat. Dari ketentuan tersebut dapat diasumsikan bahwa pekerjaan-pekerjaan di tingkat kepangkatan JURU baru membutuhkan kemampuan-kemampuan skolastik dasar dan belum menuntut suatu ketrampilan bidang ilmu tertentu. Dapat dikatakan bahwa JURU merupakan pelaksana pembantu (pemberi ASISTENSI) dalam bagian kegiatan yang menjadi tanggung jawab jenjang kepangkatan di atasnya (PENGATUR).

2. PENGATUR

PENGATUR merupakan jenjang kepangkatan untuk PNS Golongan II/a hingga II/d dengan sebutan secara berjenjang: PENGATUR MUDA, PENGATUR MUDA TINGKAT I, PENGATUR, dan PENGATUR TINGKAT I. Jika dilihat dari persyaratan golongannya maka yang menempati golongan ini adalah mereka dengan pendidikan formal jenjang Sekolah Lanjutan Atas hingga Diploma III, atau yang setingkat. Dari ketentuan tersebut dapat diasumsikan bahwa pekerjaan-pekerjaan di tingkat kepangkatan PENGATUR sudah mulai menuntut suatu ketrampilan dari bidang ilmu tertentu, namun sifatnya sangat teknis. Dengan demikian pada tingkatan ini, PENGATUR adalah orang yang MELAKSANAKAN langkah-langkah realisasi suatu kegiatan yang merupakan operasionalisasi dari program instansinya.

3. PENATA

PENATA merupakan jenjang kepangkatan untuk PNS Golongan III/a hingga III/d dengan sebutan secara berjenjang: PENATA MUDA, PENATA MUDA TINGKAT I, PENATA, dan PENATATINGKAT I. Jika dilihat dari persyaratan golongannya maka yang menempati golongan ini adalah mereka dengan pendidikan formal jenjang S1 atau Diploma IV ke atas, atau yang setingkat. Dari ketentuan tersebut dapat diasumsikan bahwa pekerjaan-pekerjaan di tingkat kepangkatan PENATA sudah mulai menuntut suatu keahlian bidang ilmu tertentu dengan lingkup pemahaman kaidah ilmu yang telah mendalam. Dengan pemahamannya yang komprehensif tentang sesuatu maka PENATA bukan lagi sekedar pelaksana, melainkan sudah memiliki tanggung jawab MENJAMIN MUTU proses dan keluaran kerja tingkatan PENGATUR.

4. PEMBINA

PEMBINA merupakan jenjang kepangkatan untuk PNS Golongan IV/a hingga IV/e dengan sebutan secara berjenjang: PEMBINA, PEMBINA TINGKAT I, PEMBINA UTAMA MUDA, PEMBINA UTAMA MADYA dan PEMBINA UTAMA. Sebagai jenjang tertinggi, kepangkatan ini tentunya diperoleh sesudah melalui suatu perjalanan karier yang panjang sebagai PNS. Ini berarti pekerjaan pada kelompok kepangkatan PEMBINA semestinya bukan saja menuntut suatu keahlian bidang ilmu tertentu yang mendalam, namun juga menuntut suatu kematangan dan kearifan kerja yang sudah diperoleh sepanjang masa kerjanya. Dengan demikian, PEMBINA adalah model peran bagi jenjang-jenjang di bawahnya guna keperluan MEMBINA DAN MENGEMBANGKAN kekuatan sumberdaya untuk jangkauan pandang ke depan.



Pangkat atau golongn PNS sesuai jenjang Pendidikan

 1.     Golongan I
Ia juru muda
Ib juru muda tingkat I
Ic juru
Id juru tingkat I
*tamatan SD sederajad ke golongan Ia
*tamatan SMP sederajad ke golongan Ib

2.     Golongan II
IIa pengatur muda
IIb pengatur muda tingkat I
IIc pengatur
IId pengatur tingkat I
*tamatan SMA sederajad ke golongan IIa
*tamatan D1 dan D2 sederajad ke gol. IIb
*tamatan D3 sederajad ke gol IIc

3.     Golongan III
IIIa penata muda
IIIb penata muda tingkat I
IIIc penata
IIId penata tingkat I
*tamatan S1 sederajad ke gol IIIa
*tamatan dokter, apoteker, dokter gigi, S2 dan sederajad ke gol IIIb.
*tamatan S3 sederajad ke gol IIIc

4.     Golongan IV
IVa pembina
IVb pembina tingkat I
IVc Pembina utama muda
IVd pembina utama madya
IVe pembina utama

Bagaimana dengan ESELONISASI? Dalam pengelolaan PNS, hirarki jabatan struktural dikenal dengan istilah Eselon yang seluruhnya terdiri dari 9 jenjang Eselon yang dapat dibagi menjadi: 1) jabatan “ESELON I”, 2) jabatan “ESELON II”, 3) jabatan “ESELON III”, 4) jabatan “ESELON IV”, dan 5) jabatan “ESELON V”. (Catatan: Jabatan Eselon V sudah tidak banyak lagi).

Guna memantapkan makna eselonisasi, hendaknya setiap tingkatan eselon dikaitkan juga dengan makna kepangkatan PNS. Berikut pemikiran LPTUI tentang MAKNA ESELONISASI PNS (Eselon I hingga IV), khususnya di tingkat PROVINSI:


1. ESELON I

ESELON I merupakan hirarki jabatan struktural yang tertinggi, terdiri dari 2 jenjang: ESELON IA dan ESELON IB. Jenjang pangkat bagi Eselon I adalah terendah Golongan IV/c dan tertinggi Golongan IV/e. Ini berarti secara kepangkatan, personelnya sudah berpangkat PEMBINA yang makna kepangkatannya adalah MEMBINA DAN MENGEMBANGKAN. Di tingkat provinsi, maka Eselon I dapat dianggap sebagai PUCUK PIMPINAN WILAYAH (PROVINSI) yang berfungsi sebagai penanggungjawab efektivitas provinsi yang dipimpinnya. Hal itu dilakukan melalui keahliannya dalam menetapkan kebijakan-kebijakan pokok yang akan membawa provinsi mencapai sasaran-sasaran jangka pendek maupun jangka panjang.

2. ESELON II

ESELON II merupakan hirarki jabatan struktural lapis kedua, terdiri dari 2 jenjang: ESELON IIA dan ESELON IIB. Jenjang pangkat bagi Eselon II adalah terendah Golongan IV/c dan tertinggi Golongan IV/d. Ini berarti secara kepangkatan, personelnya juga sudah berpangkat PEMBINA yang makna kepangkatannya adalah MEMBINA DAN MENGEMBANGKAN. Di tingkat provinsi, maka Eselon II dapat dianggap sebagai MANAJER PUNCAK SATUAN KERJA (INTANSI). Mereka mengemban fungsi sebagai penanggungjawab efektivitas instansi yang dipimpinnya melalui keahliannya dalam perancangan dan implementasi strategi guna merealisasikan implementasi kebijakan-kebijakan pokok provinsi.

3. ESELON III

ESELON III merupakan hirarki jabatan struktural lapis ketiga, terdiri dari 2 jenjang: ESELON IIIA dan ESELON IIIB. Jenjang pangkat bagi Eselon III adalah terendah Golongan III/d dan tertinggi Golongan IV/d. Ini berarti secara kepangkatan, personelnya juga berpangkat PEMBINA atau PENATA yang sudah mumpuni (Penata Tingkat I) sehingga tanggungjawabnya adalah MEMBINA DAN MENGEMBANGKAN. Di tingkat provinsi, Eselon III dapat dianggap sebagai MANAJER MADYA SATUAN KERJA (INTANSI) yang berfungsi sebagai penanggungjawab penyusunan dan realisasi program-program yang diturunkan dari strategi instansi yang ditetapkan oleh Eselon II.

4. ESELON IV

ESELON IV merupakan hirarki jabatan struktural lapis keempat, terdiri dari 2 jenjang: ESELON IVA dan ESELON IVB. Jenjang pangkat bagi Eselon IV adalah terendah Golongan III/b dan tertinggi Golongan III/d. Ini berarti secara kepangkatan, personelnya berpangkat PENATA yang sudah cukup berpengalaman. Makna kepangkatannya adalah MENJAMIN MUTU. Oleh karenanya di tingkat provinsi, Eselon IV dapat dianggap sebagai MANAJER LINI SATUAN KERJA (INSTANSI) yang berfungsi sebagai penanggungjawab kegiatan yang dioperasionalisasikan dari program yang disusun di tingkatan Eselon III.

Eselon adalah tingkat jabatan struktural, eselon tertinggi sampai dengan eselon terendah dan jenjang pangkat untuk setiap eselon sebagaimana tersebut dalam Peraturan Pemerintah Nomor 13 Tahun 2002 adalah sebagai berikut:
1.Eselon la Pembina Utama Madya IV/d Pembina Utama IV/e
2 Eselon lb Pembina Utama Muda IV/c Pembina Utama IV/e
3 Eselon II a Pembina Utama Muda IV/c Pembina Utama Madya IV/d
4 Eselon lIb Pembina Tingkat I IV/b Pembina Utama Muda IV/c &
5.Eselon IIIa Pembina IV/a Pembina Tingkat I IV/b
6 Eselon III b Penata Tingkat I Ill/d Pembina IV/a
7 Eselon IV a Penata III/c Penata Tingkat I Ill/d
8 Eselon IV b Penata Muda Tingkat I Ill/b Penata III/c
9 Eselon V Penata Muda Ill/a Penata Muda Tingkat I Ill/b

Sedangkan penerapannya, eselon-eselon tersebut dalam sebuah lembaga dengan lembaga lainnya itu berbeda namanya walaupun sama tingkatannya. Contohnya :

Di tingkat pusat (Kementerian):
Eselon I terdiri dari Sekretaris Jenderal, Inspektur Jenderal, Direktur Jenderal, Kepala Badan, dan lain-lain
Eselon II terdiri dari Kepala Biro, Kepala Pusat, Sekretaris Direktorat Jenderal, Sekretaris Badan, dan lain-lain
Eselon III terdiri dari Kepala Bagian, Kepala Bidang, dan lain-lain
Eselon IV terdiri dari Kepala Sub Bagian dan Kepala Seksi.

Di tingkat daerah (Provinsi misalnya):
Eselon I yaitu Sekretaris Daerah
Eselon II yaitu Asisten Sekretaris Daerah, Kepala Biro, Kepala Dinas, Kepala Badan, dan lain-lain
Eselon III yaitu Sekretaris Badan, Sekretaris Dinas, Kepala Bidang, Kepala Bagian, dan lain-lain
Eselon IV terdiri dari Kepala Sub Bagian dan Kepala Seksi.

Yang perlu dipahami betul-betul, bahwa para Menteri, Kepolri, Panglima TNI, Jaksa Agung, Ketua Mahkamah Agung, Ketua Mahkamah Konstitusi, KETUA KPK itu bukan jabatan eselon. Jangan sampai pengertian anda menjadi bias. Begitu juga dengan jabatan sebagai Gubernur atau Bupati/Walikota, itu bukan jabatan dalam Eselon, itu adalah jabatan politik.

sumber :

http://dinarmagzz.blogspot.com/2012/11/di-jaman-globalisali-dan-penuh.html
http://d3mi-unsyiah.forumi.biz/t111-makna-kepangkatan-dan-eselonisasi-pns

Selasa, 20 Desember 2016

NAMA ISTRI – ISTRI NABI MUHAMMAD SAW


 Gambar Kartun Cewek Cantik Berjilbab Gadis Cantik Berhijab Foto Wanita Muslimah Cantik


1. SITI KHADIJAH: Nabi mengawini Khadijah ketika Nabi masih berumur 25 tahun, sedangkan Khadijah sudah berumur 40 tahun. Khadijah sebelumnya sudah menikah 2 kali sebelum menikah dengan Nabi SAW. Suami pertama Khadijah adalah Aby Haleh Al Tamimy dan suami keduanya adalah Oteaq Almakzomy, keduanya sudah meninggal sehingga menyebabkan Khadijah menjadi janda. Lima belas tahun setelah menikah dengan Khadijah, Nabi Muhammad SAW pun diangkat menjadi Nabi, yaitu pada umur 40 tahun. Khadijah meninggal pada tahun 621 A.D, dimana tahun itu bertepatan dengan Mi’raj nya Nabi Muhammad SAW ke Surga. Nabi SAW sangatlah mencintai Khadijah. Sehingga hanya setelah sepeninggalnya Khadijah lah Nabi SAW baru mau menikahi wanita lain.


2. SAWDA BINT ZAM’A: Suami pertamanya adalah Al Sakran Ibn Omro Ibn Abed Shamz, yang meninggal beberapa hari setelah kembali dari Ethiophia. Umur Sawda Bint Zam’a sudah 65 tahun, tua, miskin dan tidak ada yang mengurusinya. Inilah sebabnya kenapa Nabi SAW menikahinya.

3. AISHA SIDDIQA: Seorang perempuan bernama Kholeah Bint Hakeem menyarankan agar Nabi SAW mengawini Aisha, putri dari Abu Bakrs, dengan tujuan agar mendekatkan hubungan dengan keluarga Abu Bakr. Waktu itu Aishah sudah bertunangan dengan Jober Ibn Al Moteam Ibn Oday, yang pada saat itu adalah seorang Non-Muslim. Orang-orang di Makkah tidaklah keberatan dengan perkawinan Aishah, karena walaupun masih muda, tapi sudah cukup dewasa untuk mengerti tentang tanggung jawab didalam sebuah perkawinan. Nabi Muhammad SAW bertunangan dulu selama 2 tahun dengan Aishah sebelum kemudian mengawininya. Dan bapaknya Aishah, Abu Bakr pun kemudian menjadi khalifah pertama setelah Nabi SAW meninggal.

4. HAFSAH BINT UMAR: Hafsah adalah putri dari Umar, khalifah ke dua. Pada mulanya, Umar meminta Usman mengawini anaknya, Hafsah. Tapi Usman menolak karena istrinya baru saja meninggal dan dia belum mau kawin lagi. Umar pun pergi menemui Abu Bakar yang juga menolak untuk mengawini Hafsah. Akhirnya Umar pun mengadu kepada nabi bahwa Usman dan Abu Bakar tidak mau menikahi anaknya. Nabi SAW pun berkata pada Umar bahwa anaknya akan menikah demikian juga Usman akan kawin lagi. Akhirnya, Usman mengawini putri Nabi SAW yiatu Umi Kaltsum, dan Hafsah sendiri kawin dengan Nabi SAW. Hal ini membuat Usman dan Umar gembira.

5. ZAINAB BINT KHUZAYMA: Suaminya meninggal pada perang UHUD, meninggalkan dia yang miskin dengan beberapa orang anak. Dia sudah tua ketika nabi SAW mengawininya. Dia meninggal 3 bulan setelah perkawinan yaitu pada tahun 625 A.D.

6. SALAMA BINT UMAYYA: Suaminya, Abud Allah Abud Al Assad Ibn Al Mogherab, meninggal dunia, sehingga meninggalkan dia dan anak-anaknya dalam keadaan miskin. Dia saat itu berumur 65 tahun. Abu Bakar dan beberapa sahabat lainnya meminta dia mengawini nya, tapi karena sangat cintanya dia pada suaminya, dia menolak. Baru setelah Nabi Muhammad SAW mengawininya dan merawat anak-anaknya, dia bersedia.

7. ZAYNAB BINT JAHSH: Dia adalah putri Bibinya Nabi Muhammad SAW, Umamah binti Abdul Muthalib. Pada awalnya Nabi Muhammad SAW sudah mengatur agar Zaynab mengawini Zayed Ibn Hereathah Al Kalby. Tapi perkawinan ini kandas ndak lama, dan Nabi menerima wahyu bahwa jika mereka bercerai nabi mesti mengawini Zaynab (surat 33:37).

8. JUAYRIYA BINT AL-HARITH: Suami pertamanya adalah Masafeah Ibn Safuan. Nabi Muhammad SAW menghendaki agar kelompok dari Juayreah (Bani Al Mostalaq) masuk Islam. Juayreah menjadi tahanan ketika Islam menang pada perang Al-Mustalaq (Battle of Al-Mustalaq). Bapak Juayreyah datang pada Nabi SAW dan memberikan uang sebagai penebus anaknya, Juayreyah. Nabi SAW pun meminta sang Bapak agar membiarkan Juayreayah untuk memilih. Ketika diberi hak untuk memilih, Juayreyah menyatakan ingin masuk islam dan menyatakan bahwa Nabi Muhammad SAW adalah utusan Allah yang terakhir. Akhirnya Nabi pun mengawininya, dan Bani Almustalaq pun masuk islam.

9. SAFIYYA BINT HUYAYY: Dia adalah dari kelompok Jahudi Bani Nadir. Dia sudah menikah dua kali sebelumnya, dan kemudian menikahi Nabi SAW.
Gerombolan anti-Islam kerap menyerang nabi Muhammad saw dikarenakan perkawinannya dengan bunda Safiyyah ra. Mereka mengklaim sang Nabi begitu brutal dan jahat dalam perkawinannya dengan bunda Safiyyah ra. Artikel ini bukan sebuah biographi bunda Safiyyah ra. Tapi artikel ini, semata-mata ingin menunjukkan bahwa sama sekali tidak ada kesalahan perihal perkawinan antara nabi saw dan bunda Safiyyah ra. Tujuan artikel ini guna memberikan bukti dan sumber yang Insya Allah berguna bagi para Muslim. Jika Muslim membaca situs anti-Islam yang mengkritik perkawinan nabi Muhammad saw dengan Safiyah ra, maka kalian akan menemukan bahan-bahan yang berguna didalam artikel. Saya telah mengumpulkan informasi dari berbagai sumber yang berbeda dan telah kami kutip secara layak.
Artikel ini terbagi menjadi beberapa seksi:
*Sikap dan perlakuan Safiyyah (ra) terhadap Nabi (saw).
*Karakter Safiyyah.
*Perkawinan sang Nabi dengan Safiyyah dan maknanya
*Sikap dan perlakukan Nabi Muhammad (saw) terhadap Safiyyah (ra)
Sikap dan perlakuan Safiyyah (ra) terhadap Nabi (saw).
Sang Nabi mengakui ketulusan dan kejujuran dari bunda Safiyyah dan sungguh itu adalah pengakuan yang besar di karenakan datang dari pribadi terjujur di muka bumi, yaitu sang Nabi saw. Zayd ibn Aslam berkata, tatkala Rasulullah (saw) sakit dan mendekati ajalnya, isteri-isterinya berkumpul mengelilinginya. Safiyyah binti Huyayyay berkata : “O Rasulullah, alangkah baiknya jika sayalah yang menanggung apa yang tuan tanggung ini!”. Para isteri Rasulullah (saw) yang lain mengerdipkan matanya, mengejek. Rasulullah yang melihat itu menegur, “Hentikan semua itu!”. Mereka bertanya, “Apakah itu, ya Rasulullah?”. “Ejek cemooh kalian! Demi Allah! Safiyyah berkata sejujurnya”. (Ibn Sa’d, Tabaqat, vol.8, p.101, Cited in Muhammad Fathi Mus’ad, The Wives of the Prophet Muhammad: Their Strives and Their Lives, p.175)
Kisah diatas memperlihatkan betapa dalamnya cinta Safiyyah kepada Nabi Muhammad.
Ini adalah momen di mana Rasulullah saw meminta maaf kepada Safiyyah ra, di karenakan ia (saw) telah membunuh ayahnya dan mantan suaminya. Nabi saw menghaturkan maaf dengan berkata, “Ayahmu menghasut dan memerintahkan orang-orang Arab untuk melawanku dan melakukan tindakan-tindakan pengkhianatan, “permohonan maaf yang dalam dari nabi saw itulah kemudian membuat bunda Safiyyah menghilangkan kepahitannya terhadap nabi saw” (Al-Bayhaqi, Dala’il an-Nubuwwah, vol. 4, p. 230, Cited in Muhammad Fathi Mus’ad, The Wives of the Prophet Muhammad: Their Strives and Their Lives, p.166)
Memang benar bunda Safiyyah ra marah kepada nabi saw pada awalnya namun kemudian ia memaafkannya. Dan ini adalah fakta bahwa ia (ra) selalu mengetahui bahwa Muhammad saw adalah seorang Nabi.
Saffiyah (ra) berkata. “Aku adalah anak kesayangan ayah dan pamanku. Di kala Rasulullah (saw) datang ke Madinah dan menetap di Quba, kedua orang tuaku mendatanginya di waktu malam dan di saat mereka melihat sampai gelisah dan capek. Aku mendatangi mereka dengan sangat gembira, tapi sangat mengejutkan mereka tidak berpaling kearah ku. Mereka begitu berduka sehingga tidak sadar dengan kehadiranku. Aku mendengar pamanku, Abu Yasir, berkata kepada ayahku, ‘Apakah benar dia?’ dia berkata, ‘Iya, demi Allah!’. Pamanku berkata: ‘Dapatkah kamu mengenalinya dan memastikannya?’ Ayahku berkata, ‘Iya’. Pamanku berkata, ‘Bagaimana perasaanmu terhadapnya?’ Ayahku berkata, ‘Demi Allah aku akan menjadi musuhnya selama aku hidup.’ (Ibn Hisham, As-Sirah an-Nabawiyyah, vol. 2, pp. 257-258, Cited in Muhammad Fathi Mus’ad, The Wives of the Prophet Muhammad: Their Strives and Their Lives, p.162)
Kisah diatas menggambarkan intelektual dan kesadaran Safiyyah akan nabian Muhammad saw. Dan kisah itu, juga menunjukkan kepada kita bahwa kaum Yahudi telah mengetahui kenabian Muhammad saw, dan mereka juga mengenali nabi seperti mereka mengenal anak-anak mereka sendiri. Namun begitu mereka menyembunyikan perasaan benci dan pahit terhadap Islam dan terhadap nabi saw. Kisah tersebut sebagai tambahan, yang menunjukkan permusuhan besar dan kebencian yang Huyyayy rasakan terhadap nabi saw. Safiyyah tidak mewariskan sifat permusuhan ayahnya, karena Allah telah membuat hatinya siap untuk Islam pula hatinya untuk beriman. (Muhammad Fathi Mus’ad, The Wives of the Prophet Muhammad: Their Strives and Their Lives, p.162-163)
kisah lebih lanjut dari kisah ini adalah….di ambil dari :
http://www.geocities.com/mutmainaa1/people/safiyah.html
Inti dari pembicaraan ini adalah sebagai bukti, bilamana kita mengingat bahwa didalam kitab Taurat Yahudi, tertulis bahwa seorang Nabi akan datang, dan akan memimpin orang-orang yang mengikutinya kepada kemenangan. Benar, sebelum kedatangan Nabi Muhammad (saw) ke Madinah, komunitas Yahudi biasa mengancam penyembah berhala Yastrib, seperti dalam perkataan; ‘kelak seorang Nabi akan datang kepada orang beriman dan akan membasmi kamu, seperti halnya moyang kami membasmi suku-suku lain yang menolak untuk menyembah Allah di waktu lalu’. Seperti halnya nabi Isa (as), yang telah jelas di cirikan di dalam kitab Taurat-tapi ditolak ketika Isa (as) benar-benar datang kepada mereka oleh kebanyakan orang Yahudi-setelahnya dan penutup para Nabi yang telah tepat di gambarkan di dalam Taurat, pula terdapat tanda-tanda yang mana mereka dengan mudah dapat mengenalinya. Karenanya Ka’b al-Ahbar, salah seorang Yahudi yang memeluk Islam saat itu, menghubungkan bahwa Nabi ini di nubuatkan di dalam kitab Taurat…
Untuk mengetahui lebih lanjut perihal Ka’b Al Ahbar silahkan berkunjung ke link ini
http://www.jews-for-allah.org/Jewish-Converts-to-Islam/kab-al-ahbar.htm
Kembali kepada artikel…
Syukur dan terima kasih kepada diskripsi yang termuat di dalam kitab Taurat, bahwa kebanyakan Rabbi yang terpelajar dari komunitas Yahudi, seperti Abdullah ibn Salam, memeluk Islam sewaktu melihat Muhammad (saw) dan pula di karenakan deskripsi ini Huyayy ibn Akhtab dapat mengenalinya (saw). Huyayy, seperti juga kebanyakan komunitas Yahudi lainnya, merasa sangat kecewa bahwa nabi terakhir adalah dari keturunan Ismail (as) bukan dari keturunan Ishak (as), di karenakan komunitas Yahudi disaat itu mengklaim sebagai keturunan eksklusif dari nabi Ishak as, melalui ke dua belas anak-anak dari Yakub (Israil) ibn Ishak (as), darinya nasab ke dua belas suku Israil bermula. Bukan hanya perasaan marah karena harus menerima kenyataan bahwa nabi terakhir berasal dari antara suku-suku Arab, tapi juga Huyayy tidak mau kehilangan kekuasaan dan kepemimpian atas rakyatnya.
Itulah sebab musabab kenapa Huyayy secara rahasia memutuskan untuk melawan dan memerangi nabi Muhammad…
Meskipun Safiyyah adalah anak perempuan Huyayy, namun ia (ra) mempunyai hati yang luhur dan selalu berkenaan untuk memuji Pencipta pula Tuhannya, Yang Ahad yang telah mengutus Musa (as) dan Harun (as), yang darinya ia (ra) bernasab, dan pula mengutus Isa (as), dan utusan terakhir Muhammad (saw), Shalat dan salam Allah semoga berlimpah atas mereka. Oleh karenanya, di saat kesempatan menghampirinya, bunda Safiyyah (ra) tidak hanya mengikuti nabi terakhir Allah SWT, tapi pula kesempatan menjadi isterinyapun di terimanya dengan ikhlas.
Safiyyah (ra) pindah kerumah Nabi (saw). Dia di cintai, di hargai dan di hormati secara tulus dan mendalam hingga membuatnya berkata, “Saya tidak pernah melihat pribadi luhur dan baik, seperti Rasulullah (saw). (Abu Ya’la al-Mawsili, Musnad, vol. 13, p. 38, Cited in Muhammad Fathi Mus’ad, The Wives of the Prophet Muhammad: Their Strives and Their Lives, p.172)
Karakter Safiyyah.
Abd Allah ibn Ubaydah berkata, “Sekelompok orang berkumpul di rumah Safiyyah, isteri Nabi saw. Mereka berzikir, melantunkan al-Qur’an dan bersujud. Safiyyah berkata kepada mereka, ‘Kalian bersujud dan melantunkan al-Qur’an namun di mana tangisanmu (out of fearing Allah)?” (Abu Nu’aym al Asbahani, Hilyat al-Awliya’, vol. 2, p. 55, Cited in Muhammad Fathi Mus’ad, The Wives of the Prophet Muhammad: Their Strives and Their Lives, p.177)
Kisah diatas menunjukkan betapa Safiyyah (ra) seorang Mukmi yang tulus.
Di kutip dari: http://www.geocities.com/mutmainaa1/people/safiyah.html
Ia (ra) mengalami kesulitan-kesulitan setelah kematian sang Nabi (saw). Satu hari seorang budak wanitanya pergi menemui Amir Al Muminin Umar (ra) dan berkata, “Amir al Muminin! Safiyyah (ra) mengangungkan hari Sabbath dan berkumpul beribadat bersama orang-orang Yahudi!” lalu Umar bertanya kepada Safiyyah (saw) perihal itu dan ia berkata, “Aku tidak lagi mengagungkan hari Sabbath semenjak Allah mengantikan hari Jum’at untuk ku, dan aku berkumpul dengan para Yahudi itu sebatas karena mereka adalah kerabatku.” Lalu dia bertanya kepada budaknya apa yang mempengaruhinya sehingga dia membawa kebohongan ini kepada Umar (ra) dan budak wanita itu menjawab, “Syaiton!” Safiyyah (ra) lalu berkata, “Pegilah, engkau telah bebas!”
Kisah diatas, sebagai bukti bahwa bunda Safiyyah tetap menjadi Muslim yang taat dan setia, sekalipun sang Nabi tidak lagi bersamanya.
Safiyyah memperlihatkan kehangatan dan hubungan yang simpatik didalam rumah tangga sang Nabi. Ia memberikan hadiah permata-permata kepada Fatimah az-Zahra sebagai ekspresi rasa sayangnya kepada Fatimah, pula ia memberikan kepada beberapa isteri Nabi hadiah permata yang ia bawa dari Khaybar. (Ibn Sa’d, Tabaqat, vol.8, p.100, Cited in Muhammad Fathi Mus’ad, The Wives of the Prophet Muhammad: Their Strives and Their Lives, p.172)
Safiyyah adalah hamba yang rendah hati dan Mukmin yang saleh. Mengenai Safiyyah ra ibn Kathir berkata, “Dia adalah salah seorang dari wanita-wanita terbaik dalam menyembah Allah, dalam kesalihannya, dalam tafakurnya, dalam keimanannya dan amalnya. (Ibn Kathir, Al-Bidayah wa an-Nihayah, vol. 8, p. 47, Cited in Muhammad Fathi Mus’ad, The Wives of the Prophet Muhammad: Their Strives and Their Lives, p.177)
Safiyyah (ra) adalah seorang yang amat pemurah pula baik hati. Ia biasa memberikan dan membelanjakan harta yang ia miliki semata-mata demi perjuangan di jalan Allah, bahkan ia pun memberikan rumahnya semasa ia hidup. (Ibn Sa’d, Tabaqat, vol. 8, p. 102, Cited in Muhammad Fathi Mus’ad, The Wives of the Prophet Muhammad: Their Strives and Their Lives, p.178)
Perkawinan sang Nabi dengan Safiyyah dan maknanya
Mengenai tuduhan para gerombolan yang di kenal Islamophobhia, bahwa Safiyyah (ra) di paksa kawin dan dizalimi, tuduhan tersebut sama sekali tidak berdasar. Kita sudah melihat diatas, bahwa Safiyyah (ra) tetap beriman dan setia kepada Rasulullah (saw) sampai wafatnya sang Nabi (saw). (An account of how Safiyyah’s loyalty was affirmed by the Prophet(P) himself is recorded in Muhammad Husayn Haykal, op. cit., p. 374)
Bahkan pada kenyataannya, Nabi Muhammad (saw) menawarkan kepadanya kebebasan, seperti terekam dalam:
Ia (saw) lalu mengatakan kepada Safiyyah (ra) bahwa ia siap untuk membebaskannya, dan memberikan pilihan kepadanya (ra), yakni tetap menjadi Yahudi dan kembali kepada kaumnya, atau memeluk Islam dan menjadi isteri beliau (saw). Safiyyah (ra) berkata; ‘Aku memilih Allah dan RasulNya,’ lantas menikahlah mereka pada (tempat) pemberhentian pertama dalam perjalanan pulang. (Martin Lings, Muhammad: His Life Based On The Earliest Sources (George Allen & Unwin, 1983), p. 269,)
Perkawinan beliau (saw) dengan Safiyyah (ra) juga mempunyai maksud politik, guna mengurangi rasa permusuhan dan memupuk aliansi dengan sekte-sekte Yahudi di sekitar Arab, khususnya Yastrib (Madinah). John L.Esposito mencatat bahwa:
Adalah sebuah kebiasaan politik bagi kepala-kepala tribal (suku) di Arab, banyak dari mereka melakukan perkawinan bersifat politik dengan maksud memupuk aliansi. Sebagian menikah dikarenakan adanya janda dari sahabatnya yang terbunuh dalam perang dan ada pula yang dikarenakan butuh perlindungan. (John L. Esposito, Islam: The Straight Path, pp. 19-20)
Arti penting dari pernikahan Nabi dengan Safiyyah (ra) adalah sebuah penghargaan besar baginya, tak hanya menjaga martabatnya (ra), namun juga mencegahnya untuk tidak dijadikan budak. Haykal mencatatnya:
Sang Nabi memberikan kepadanya kebebasan lalu menikahinya, mengikuti jejak penguasa besar yang menikahi anak wanita atau isteri dari raja-raja yang di taklukannya, sebagian dimaksudkan untuk meringankan penderitaan mereka sebagian untuk menjaga martabat mereka. (Muhammad Husayn Haykal, The Life of Muhammad (North American Trust Publications, 1976), p. 373)
Dengan menikahi Safiyyah (ra), Sang Nabi bertujuan untuk mengakhiri kebencian dan permusuhan orang-orang Yahudi terhadapnya dan terhadap Islam.( See Muhammad M. as-Sawwaf, Zawjat ar-Rasul at-Tahirat wa Hikmat T’adudihinn, pp. 76-79, Cited in Muhammad Fathi Mus’ad, The Wives of the Prophet Muhammad: Their Strives and Their Lives, p.168)
Perlakuan dan sikap sang Nabi terhadap Safiyyah.
Sungguh, di kala Bilal ibn Rabah (ra), seorang sahabat nabi saw, membawa Safiyyah (ra) bersama dengan beberapa wanita Yahudi lainnya ke hadapannya (saw) dengan melewati mayat-mayat orang Yahudi yang telah terbunuh. Muhammad secara pribadi mencaci Bilal dan berkata, “Tidak punya perasaan kah engkau, wahai Bilal, engkau membawa isteri-isteri berjalan melewati mayat suami-suami mereka?” (A. Guillaume (trans.), The Life of Muhammad: A translation of Ibn Ishaq’s Sirat Rasul Allah (Oxford University Press, 1978), p. 515)
Suatu saat, ketika Zaynab binti Jahsh dan Safiyyah pergi bersama Nabi dalam satu perjalanan dan unta Safiyyah jatuh sakit. Nabi berkata kepada Zaynab, “Unta Safiyyah (ra) jatuh sakit, bagaimana jika engkau memberikan kepadanya salah satu dari unta-untamu?” Zaynab berkata, “Tidak akan pernah aku memberikannya kepada wanita Yahudi”. Nabi Muhammad marah kepadanya dan tidak mendekatinya selama dua bulan. (Ahmad, vol. 6, pp. 336-337, Cited in Muhammad Fathi Mus’ad, The Wives of the Prophet Muhammad: Their Strives and Their Lives, p.173)
Setiap kali Safiyyah di cemoohkan karena darah Yahudinya. Sambil mengusap air mata Safiyyah datang mengadu, beliau saw mengajarinya untuk menjawab cemoohan itu, “Bagaimana kalian bisa lebih mulia dari pada saya padahal ayahku adalah Harun (as), sedangkan pamanku adalah Musa (as), dan suamiku adalah Muhammad (saw). (DR.Musthafa Mahmud, Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wasalam, Sebuah Upaya Untuk Memahami SEJARAH RASULULLAH, Halaman 74 )
Nabi selalu memperlakukan Safiyyah dengan kesantuan, hormat, cinta kasih dan sayang. Safiyyah berkata, “Rasulullah pergi Haji bersama isteri-isterinya. Dalam perjalanannya unta ku roboh dan mati, di karenakan ia adalah unta terlemah diantara unta-unta yang lain lalu aku menangis. Sang Nabi mendatangi ku dan mengusap air mata ku dengan kain dan tangannya. Semakin ia memintaku untuk tidak menangis semakin menangislah aku. (Ahmad, vol.6, p. 337, Cited in Muhammad Fathi Mus’ad, The Wives of the Prophet Muhammad: Their Strives and Their Lives, p.176).

10. UMMU HABIBA BINT SUFYAN: Suami pertamanya adalah Aubed Allah Jahish. Dia adalah anak dari Bibi Rasulullah SAW. Aubed Allah meninggak di Ethiopia. Raja Ethiopia pun mengatur perkawinan dengan Nabi SAW. Dia sebenarnya menikah dengan nabi SAW pada 1 AH, tapi baru pada 7 A.H pindah dan tinggal bersama Nabi SAW di Madina, ketika nabi 60 tahun dan dia 35 tahun.

11. MAYMUNA BINT AL-HARITH: Dia masih berumur 36 tahun ketika menikah dengan Nabi Muhammad SAW yang sudah 60 tahun. Suami pertamanya adalah Abu Rahma Ibn Abed Alzey. Ketika Nabi SAW membuka Makkah di tahun 630 A.D, dia datang menemui Nabi SAW, masuk Islam dan meminta agar Rasullullah mengawininya. Akibatnya, banyaklah orang Makkah merasa terdorong untuk merima Islam dan nabi SAW.

12. MARIA AL-QABTIYYA: Dia awalnya adalah orang yang membantu menangani permasalahan dirumah Rasullullah yang dikirim oleh Raja Mesir. Dia sempat melahirkan seorang anak yang diberi nama Ibrahim. Ibrahim akhirnya meninggal pada umur 18 bulan. Tiga tahun setelah menikah, Nabi SAW meninggal dunia, dan Maria (thx buat Joan) akhirnya meninggal 5 tahun kemudian, tahun 16 A.H. Waktu itu, Umar bin Khatab yang menjadi Iman sholat Jenazahnya, dan kemudian dimakamkan di Al-Baqi.

KISAH  TAULADAN  NABI  MUHAMMAD  SAW
Di sudut pasar Madinah Al-Munawarah seorang pengemis Yahudi buta hari demi hari apabila ada orang yang mendekatinya ia selalu berkata “Wahai saudaraku jangan dekati Muhammad, dia itu orang gila, dia itu pembohong, dia itu tukang sihir, apabila kalian mendekatinya kalian akan dipengaruhinya”. Setiap pagi Rasulullah SAW mendatanginya dengan membawa makanan, dan tanpa berkata sepatah kata pun Rasulullah SAW menyuapi makanan yang dibawanya kepada pengemis itu walaupun pengemis itu selalu berpesan agar tidak mendekati orang yang bernama Muhammad. Rasulullah SAW melakukannya hingga menjelang Beliau SAW wafat. Setelah kewafatan Rasulullah tidak ada lagi orang yang membawakan makanan setiap pagi kepada pengemis Yahudi buta itu.
Suatu hari Abubakar r.a berkunjung ke rumah anaknya Aisyah r.ha. Beliau bertanya kepada anaknya, “anakku adakah sunnah kekasihku yang belum aku kerjakan”, Aisyah r.ha menjawab pertanyaan ayahnya, “Wahai ayah engkau adalah seorang ahli sunnah hampir tidak ada satu sunnah pun yang belum ayah lakukan kecuali satu sunnah saja”. “Apakah Itu?”, tanya Abubakar r.a. Setiap pagi Rasulullah SAW selalu pergi ke ujung pasar dengan membawakan makanan untuk seorang pengemis Yahudi buta yang berada di sana”, kata Aisyah r.ha.
Ke esokan harinya Abubakar r.a. pergi ke pasar dengan membawa makanan untuk diberikannya kepada pengemis itu. Abubakar r.a mendatangi pengemis itu dan memberikan makanan itu kepada nya. Ketika Abubakar r.a. mulai menyuapinya, si pengemis marah sambil berteriak, “siapakah kamu ?”. Abubakar r.a menjawab, “aku orang yang biasa”. “Bukan !, engkau bukan orang yang biasa mendatangiku”, jawab si pengemis buta itu. Apabila ia datang kepadaku tidak susah tangan ini memegang dan tidak susah mulut ini mengunyah. Orang yang biasa mendatangiku itu selalu menyuapiku, tapi terlebih dahulu dihaluskannya makanan tersebut dengan mulutnya setelah itu ia berikan pada ku dengan mulutnya sendiri”, pengemis itu melanjutkan perkataannya.
Abubakar r.a. tidak dapat menahan air matanya, ia menangis sambil berkata kepada pengemis itu, aku memang bukan orang yang biasa datang pada mu, aku adalah salah seorang dari sahabatnya, orang yang mulia itu telah tiada. Ia adalah Muhammad Rasulullah SAW. Setelah pengemis itu mendengar cerita Abubakar r.a. ia pun menangis dan kemudian berkata, benarkah demikian?, selama ini aku selalu menghinanya, memfitnahnya, ia tidak pernah memarahiku sedikitpun, ia mendatangiku dengan membawa makanan setiap pagi, ia begitu mulia…. Pengemis Yahudi buta tersebut akhirnya bersyahadat dihadapan Abubakar r.a.