Rabu, 16 April 2014

CERITA RAKYAT BERBAHASA INGGRIS

Banyak sekali cerita rakyat yang melegenda dan sangat populer di Indonesia, bahkan menyebar hingga seantero dunia. cerita bahasa Inggris yang akan ditampilkan disini adalah dongeng legenda dalam Bahasa Inggris yang berasal dari Indonesia. 

Bagi anda yang sedang mencari cerita legeda bahasa Inggris, mungkin hal pertama yang harus anda ketahui adalah cerita legenda bahasa Inggris asli Indonesia. Tujuannya sederhana, cerita legenda bahasa Inggris yang anda ketahui pertama kali adalah cerita legenda dari Indonesia yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris. Artinya, kenali dulu legenda lokal baru setelah itu mengenal cerita Bahasa Inggris internasional.

Oke, langsung saja, ini dia dongeng di Indonesia :


1. Cerita Rakyat Bahasa Inggris dari Sumatra Barat

 
2. Cerita Rakyat Bahasa Inggris dari Sumatra Utara


3. Cerita Rakyat Bahasa Inggris dari Jawa Tengah

  
4. Cerita Rakyat Bahasa Inggris dari Jawa Barat


5. Cerita Legenda Bahasa Inggris Jawa Timur 


6.  Cerita Rakyat Bahasa Inggris dari Yogyakarta


7. Cerita Rakyat Bahasa Inggris dari Bali


8. Cerita Rakyat Bahasa Inggris dari Kalimantan Barat


9. Cerita Rakyat Bahasa Inggris dari Kalimantan Tengah


10. Cerita Rakyat Bahasa Inggris dari Kalimantan Timur


11. Cerita Rakyat Bahasa Inggris dari Sulawesi Barat


12. Cerita Rakyat Bahasa Inggris dari Sulawesi Selatan


13. Cerita Rakyat Bahasa Inggris dari Sulawesi Tenggara


14. Cerita Rakyat Bahasa Inggris dari Sulawesi Utara


 cerita bahasa inggris


Mohon koreksi jika ada kesalahan asal cerita rakyat di atas. Cerita rakyat di daerah lainnya semoga saja bisa diterbitkan lagi di sini.
 Untuk Melihat lebih banyak Dongeng berbahasa Inggris, Masuk ke :


Dongeng, baik itu cerita rakyat (folklores), cerita binatang (fables), cerita legenda (legends), cerita fiksi (fictions), cerita mitos (myths) dan semua tulisan yang berhubungan dengan cerita adalah salah satu genre narrative text.

Selasa, 15 April 2014

USIA PENSIUN PNS AKHIRNYA MENJADI 58 TAHUN



Pemerintah dan DPR RI sepakat bahwa batas usia pensiun (BUP) PNS menjadi 58 tahun. Usia pensiun yang baru ini berlaku menyeluruh untuk PNS golongan I sampai IV.
Ketentuan ini sudah masuk dalam Rancangan Undang-Undang Aparatur Sipil Negara yang rencananya akan di sahkan dalam rapat paripurna DPR tanggal 19 Desember 2013.  Ada empat RUU yang akan disahkan pada masa sidang 2012-2013 yang berakhir pada paripurna nanti yaitu RUU ASN (Aparatur Sipil Negara), RUU Perindustrian, RUU tentang Perubahan UU No.30 Tahun 2004, dan RUU Desa.
Perubahan BUP ini sebenarnya cukup mengagetkan karena dalam Draft RUU ASN terakhir (21 Oktober 2013), pemerintah bersikeras bahwa batas usia pensiun (BUP) PNS untuk jabatan administrasi tetap 56 tahun. Pertimbangan kemampuan keuangan negara menjadi alasan pemerintah menolak perpanjangan BUP PNS tersebut. Sejak awal dalam draft RUU ASN yang disusun DPR, sebenarnya batas usia pensiun (BUP)  sudah direncanakan menjadi 58 tahun.
Namun perkembangan terakhir tadi malam (16 Desember 2013) rapat Panja RUU ASN seluruh fraksi dan pemerintah akhirnya sepakat menyetujui BUP PNS bertambah dua tahun.
Dari penjelasan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (MenPAN-RB) Azwar Abubakar, konsekuensi penambahan BUP menjadi 58 tahun sudah diperhitungkan oleh Menteri Keuangan. Meski BUP bertambah namun ada syarat-syarat yang harus dipenuhi setiap pegawai dan tetap memperhitungkan kompetensi masing-masing pegawai.
Wamen PAN- RB Eko Prasojo mengungkapkan penambahan BUP dua tahun bagi seluruh PNS merupakan langkah pemerintah untuk memperpanjang pembayaran pensiun. Sebab, bila tetap di angka 56 tahun, pembayaran pensiun akan semakin membengkak.
Dalam RUU ASN penambahan batas usia pensiun juga diberlakukan untuk jabatan eselon I dan II menjadi 60 tahun. Sementara untuk jabatan fungsional, usia pensiun disesuaikan dengan peraturan perundang-undangan. Seperti diketahui dalam beberapa tahun terakhir rata-rata batas usia pensiun jabatan fungsional sudah ditambah menjadi 60 tahun, dari sebelumnya 58 tahun.
Update, 8 Januari 2013
Sesuai amanat UU ASN, seluruh PP dan Perpres sebagai Peraturan pelaksanaan dari Undang-Undang ini harus ditetapkan paling lama 2 (dua) tahun terhitung sejak Undang-Undang ini diundangkan.
Daftar Perpres dan PP yang dipersiapkan pemerintah:




http://setagu.net/wp-content/uploads/2013/12/PP-dan-Perpres-Pelaksana-RUU-ANS1.png
Pensiun 1 Februari 2014 Otomatis Diperpanjang
Berdasarkan ketentuan paling lambat 30 hari setelah disahkan DPR, suatu undang-undang sudah berlaku meskipun belum ditandatangani Presiden. UU ASN disahkan DPR pada tanggal 19 Desember 2013 sehingga berlaku mulai tanggal 19 Januari 2014.
Batas Usia Pensiun PNS sesuai Pasal 90 adalah 58 tahun bagi pejabat Administrasi, dengan pemberlakuan UU ASN per 19 Januari 2013 berarti PNS yang pensiun per 1 Febuari 2014 ke atas, otomatis usia pensiunnya diperpanjang dua tahun lagi
Petunjuk teknis tentang aturan Pensiun PNS yang baru, akan diterbitkan oleh BKN berupa Surat Edaran Kepala BKN (sumber)

MAHABHARATA SERI PEWAYANGAN

Cerita Mahabharata

Cerita Mahabharata
Menurut M.A Salmoen dalam bukunya Pedalangan Di Pasoendan dan dalam Kitab Filsafat dan Masa Depan Pewayangan karya Ir. Moelyono, Mahabharata berasal dari cerita bangsa Aria, yaitu suatu bangsa yang mendiami tanah dataran tinggi Kasymir di India utara yang bernama Wedda. Kitab Mahabharata yang berasal dari cerita rakyat, berubah menjadi cerita mitos yang disetarakan dengan kitab-kitab lainya di India, seperti Jayur wedda, rig wedda, sama wedda dan lain-lainya.
Pada awal abad ke 20, kitab Mahabharata telah diterjemahkan ke dalam + 300 bahasa sehingga hampir seluruh dunia mengenalnya. Asal mula cerita itu ditulis dalam bentuk puisi yang disebarkan secara lisan dan turun-temurun, kemudian setelah manusia bisa menulis dan membaca barulah dijadikan cerita tertulis yang disusun dengan bahasa yang indah dalam bentuk puisi dan prosa.

Kedua cerita tersebut kadang-kadang dikaburkan oleh pendapat- pendapat atau pengertian yang campur aduk, karena perkembangan kedua cerita itu tidak terlepas dari pengaruh dan perubahan zaman, seperti perubahan politik, perubahan kepercayaan, perubahan sosial ekonomi dan lain-lainya, yang kemajuan alam pikiran manusia mempengeruhi perubahan-perubahan itu. Pada zaman Majapahit dan zaman-zaman sebelumnya, cerita wayang bertindak sebagai sumber penyebaran ajaran agama Hindu. Tetapi pada zaman Islam digunakan sebagai media pengembangan dan penyebaran agama Islam yang tentu berbeda maksud dan tujuannya, baik dalam pengertian maupun dalam falsafahnya.

Kitab Mahabharata ini sering juga disebut Asthadasaparwa. Astha berarti delapan, dasa berarti sepuluh, parwa berarti bagian atau bab. Jadi kitab Mahabharata ini dibagi menjadi 18 bagian atau 18 parwa. Sebagian besar menceritakan peperangan sengit antara Pandawa dan Kurawa selama 18 hari, sehingga ada yang menyebut dengan nama yang lengkap yaitu kitab Mahabharatayudda yang artinya peperangan besar antara keluarga Bharata

Kitab Mahabharata ditulis oleh Empu Wiyasa. Nyoman S. Pendita dalam halaman pendahuluan Mahabharatanya menyebutkan bahwa Mahabharata dikarang oleh 28 Wiyasa (Empu sastra) yang dipersonifikasikan sebagai seorang Maharsi Wiyasa (kakek Pandawa dan Kurawa). Asthadasaparwa artinya 18 parwa atau 18 bagian, diantaranya yaitu Adiparwa, Sabhaparwa, Wanaparwa, Wirathaparwa, Udyogaparwa, Bismaparwa, Dronaparwa, Karnaparwa, Salyaparwa, Sauptikaparwa, Striparwa, Santiparwa, Anusasanaparwa, Aswamedaparwa, Asramawasanaparwa, Mausalaparwa, Prasthanikaparwa, Swargarohanaparwa.

Dalam parwa yang pertama yaitu Adiparwa, dimuat beberapa macam cerita, misalnya matinya Arimba, burung dewata mengaduk laut susu yang menyebabkan keluarnya air hidup dan juga timbulnya gerhana matahari dan bulan yang dalam ceritanya terungkap bulan yang ditelan oleh raksasa yang hanya berwujud kepala. Ada juga cerita tentang Pandawa dan Kurawa ketika masih kecil misalnya lakon Dewi Lara Amis, Bale si Gala-gala dan cerita Santanu. Negeri Hastina yang rajanya bernama prabu Santanu mempunyai anak bernama Prabata atau disebut juga Bisma yang artinya teguh janji. Suatu saat prabu Santanu tertarik dengan kecantikan dewi Satyawati. Padahal prabu Santanu sudah pernah sumpah tak akan kawin lagi, hanya akan mengasuh sang Prabata saja.

Bisma pun mengetahui pula bahwa sang ayah telah bersumpah tak akan kawin lagi. Namun demikian Bisma sangat iba hati melihat sang ayah prabu Santanu jatuh cinta kepada dewi Satyawati yang hanya mau dikawini bila keturunannya dapat naik tahta. Melihat gelagat yang kurang pas itu, Bisma rela untuk melepaskan haknya sebagai raja pengganti sang ayah. Bisma kemudian bersumpah akan hidup sendiri dan tidak menikah selamanya (wadat). Ini berarti Bisma tidak menggantikan tahta ayahnya, agar sang ayah bisa kawin dengan Satyawati. Pernikahan Santanu dengan Dewi Satyawati berputra dua yaitu Citragada dan Wicitrawirya. Citranggada tidak lama hidup dia mati muda maka Wicatrawirya yang menggantikan sang prabu sebagai raja Hastina dengan istri dua dewi Ambika dan Ambalika dari negara Kasi. Belum sampai punya keturunan prabu
Wicitrawirya meninggal. Oleh Satyawati Bisma disuruh mengawini kedua janda itu, tetapi dengan tegas Bisma menolak. Kemudian dewi Satyawati menyuruh anaknya si Abiyasa (Wiyasa) hasil perkawinannya dengan begawan Parasara untuk mengawini si janda Ambika dan Ambalika dengan harapan ada keturunan dari silsilah Bharata yang meneruskan menjabat sebagai raja di negara Astina.

Dewi Ambika yang menikah dengan resi Wiyasa punya keturunan laki-laki bernama Dretharastra yang sejak lahir menderita buta dan tidak bisa menjadi raja. Sedangkan pernikahan antara Wiyasa dengan Dewi Ambalika menurunkan anak laki-laki bernama Pandhu si muka pucat. Pandhulah yang kemudian menduduki singgasana kerajaan Hastina. Pandhu menikah dengan dua wanita yaitu Dewi Kunthi dan Dewi Madrim. Pernikahanya dengan Dewi Kunthi berputra 3 laki-laki, yaitu Yudhistira, Bima, Arjuna. Sedangkan pernikahanya dengan Dewi Madrim berputra 2 laki-laki, yaitu Nakula dan Sadewa. Sehingga Prabu Pandhu mempunya 5 orang anak, dan kelima anak tersebut disebut Pandawa.

Drestharastra akhirnya menikah dengan kakak perempuan Sangkuni yang bernama Dewi Gandari dan mempunyai keturunan 100 orang. Ketika Pandhu meninggal, Drestharastra terpaksa menggantikan raja sementara meskipun buta. Drestharastra menjabat raja hanya sementara, inilah yang menimbulkan perang besar Bharatayuda selama 18 hari yang memakan korban sangat banyak.

Pada parwa yang kedua yaitu Sabhaparwa menceritakan tentang permainan dadu hingga Pandawa menjalani hukuman. Usaha Kurawa untuk menghancurkan Pandawa tidak pernah mau berhenti. Kali ini Pandawa yang sudah menempati Indraprastha sebagai tempat berteduh diajak main dadu. Ternyata atas kelicikan orang Kurawa, meskipun Yudhistira ahli main dadu, tetapi tetap kalah karena tipu muslihat Sengkuni. Dalam permainan tersebut Yudhistira juga menyerahkan dirinya untuk dijadikan taruhan, hingga Yudhistira kalah dan menerima hukuman. Tetapi karena usaha Drestharastra para Pandawa menjadi bebas.

Kurawa tetap menginginkan kehancuran Pandawa dan diajaknya main dadu lagi dengan taruhan bila Pandawa kalah harus menjalani pembuangan selama 12 tahun dan tahun ke 13 mereka harus menyelinap atau bersembunyi. Jika dalam penyelinapannya diketahui para Kurawa, Pandawa harus kembali ke hutan selama 12 tahun lagi dan menyelinap pada tahun ke 13 dan seterusnya.

Dalam Wanaparwa yaitu bagian yang ketiga ini mengisahkan pengalaman-pengalaman Pandawa ketika berada dalam hutan buangan selama 12 tahun. Pernah para Pandawa menolong seorang desa yang akan dimakan oleh seorang raja raksasa bernama prabu Baka dari negeri Ekacakra. Prabu Baka mati terkena kuku Pancanaka Bratasena, perutnya sobek usus keluar. Negeri Ekacakra tentram dan seorang yang tertolong itu berjanji akan sanggup menjadi korban saji (tawur) ketika perang besar nanti terjadi. Di samping itu dikisahkan pula bahwa Raden Arjuna juga pernah merukunkan suami istri yang belum akur menjadi satu selama perkawinannya. Setelah Raden Arjuna yang merukunkannya, maka orang tersebut sanggup menjadi tawur pada perang besar nanti. Pada saat Pandawa dalam hutan buangan sering menerima kehadiran para Brahmana yang hadir untuk mendoakannya.

Maharsi Wiyasa datang untuk memberikan nasehat-nasehatnya agar Arjuna mau bertapa di gunung Mahameru untuk memohon senjata-senjata yang ampuh dan sakti. Tapa Arjuna inilah yang menjadi bahan cerita Arjunawiwaha.

Parwa yang ke empat yaitu Wirathaparwa mengisahkan Pandawa sudah selesai menjalani 12 tahun di hutan sebagai buangan. Maka mereka keluar dari hutan ingin menyelinap sesuai perjanjian. Para Kurawa berpendapat bahwa Pandawa pasti sudah mati dimakan binatang buas. Tetapi ternyata mereka sudah berada di negeri Wiratha sebagai budak sang prabu Matsyapati.

Penyamaran yang dilakukan para Pandawa adalah sebagai berikut, Yudhistira sebagai kepala pasar berpangkat tandha bernama Dwijangkangka, Bratasena sebagai tukang menyembelih sapi (jagal) dengan nama Ballawa dan ikut seorang jagal Walakas di desa Pajagalan. Arjuna diterima sebagai abdi sang permaisuri dewi Sudisna bersama putri mahkota dewi Utari, tugasnya mengajar tari dan sindhen bernama Kandhi Wrehatnala dengan watak banci (wandu). Sedangkan Nakula dan Sadewa sebagai tukang memelihara kuda dan tukang rumput (Gamel), bernama Grantika dan Tantripala. Drupadi bernama Salindri sebagai pelayan sang permaisuri dewi Sudesna dan merangkap sebagai penjual kinang di pasar. Penyamaran Ini memang strategi mereka biar tidak jauh dengan Kandhi Wrehatnala, dan pada saat keluar supaya mudah berhubungan dengan tandha Dwijangkangka dan Jagal Ballawa serta Grantika dan Tantripala.
Meskipun di Wiratha sering mendapat marah oleh sang Prabu Matsyapati, tetapi Pandawa sadar itu suatu perjalanan penuh kesabaran dan tawakal (laku prihatin) yang harus dijalani. Mengabdi sebagai budak kerajaan harus mau menerima apa adanya meskipun menerima siksa, dihina, dicerca, meskipun benar dianggap salah toh mereka beranggapan bahwa kebenaranlah yang akan mendapat anugerah.

Sabagai abdi mereka berenam dalam strategisnya mampu mengamankan negara Wiratha yang sedang terancam bahaya, misalnya jagal Billawa mampu membunuh tritunggal Kencakarupa – Praupakenca dan Rajamala. Sedangkan Arjuna si Kandhi Wrehatnala mampu membunuh beribu-ribu tentara sekutu Astina bersama para senapatinya sehingga negeri itu menjadi tenang dan tentram. Setelah para budak bersembunyi dan menyelinap di Wirataha selama satu tahun, barulah tahu dengan jelas bagi prabu Matsyapati yang menyadari bahwa keenam bersaudara tersebut adalah para Pandawa yang terhitung masih cucunya sendiri. Demikianlah kata para budak si Pandawa. “Kakek Matsyapati, akulah cucu-cucumu Pandawa.” Seketika itu kemarahan Matsyapati menjadi kesabaran dan berjanji akan mengutamakan kebijaksanaan.

Udyogaparwa adalah parwa yang kelima mengisahkan bahwa pada tahun ke 14 Pandawa tak bisa dicari orang Hastina, apalagi para Kurawa yakin bahwa Pandawa sudah mati. Maka orang Hastina cemas bahwa Pandawa kembali ke Indraprastha. Di dalam bagian ke 5 ini Sri Kresna sebagai perantara untuk minta separuh negara, tetapi Kurawa tidak rela. Oleh karena itu tidak ada jalan lain, kecuali harus mempersiapkan diri untuk menghadapi peperangan.

Pada parwa yang ke enam yaitu Bismaparwa dikisahkan bahwa perang Bharatayuda sudah dimulai dan Bisma sebagai panglima perang Hastina dan Dhresthadyumna sebagai panglima perang Pandawa akan berhadapan di medan perang Tegalkurukasetra. Pembela Pandawa yang lain adalah dari negara Wirata diantaranya adalah Seta, Utara, Wratsangka yang akhirnya ketiga kesatriya tersebut gugur terkena panah Bisma.

Dalam perang besar Bharatayuda, kedudukan Sri Kresna sebagai penasehat Pandawa dan pengatur siasat perang serta menjadi kusir atau pengendara kereta Arjuna. Dikala Arjuna bimbang menghadapi musuhnya yaitu saudara-saudara, guru, kakek, kakak, maka Sri Kresna memberikan nasehat (wejangan) tentang hakekat dan kewajiban manusia secara mendalam. Wejangan yang mendalam dan panjang itu merupakan bagian yang disebut Nyanyian Tuhan (Baghawadgita).

Sepuluh hari pertempuran berlangsung, maka gugurlah Bisma. Ia tidak terus mati, melainkan masih hidup beberapa lama lagi. Kemudian masih mampu memberikan wejangan kepada kedua belah pihak yang bertikai.

Dronaparwa adalah bagian yang ke tujuh mengisahkan tentang begawan Drona sebagai senapati Kurawa dan gugurnya Gathotkaca. Drona telah menjadi panglima perang Kurawa. Sedangkan Karna mengamuk telah ditantang Gathotkaca namun Gathotkaca gugur, Abimanyu anak Arjuna juga gugur oleh Jayajerata. Raja Drupadapun gugur, sebagai seorang anak maka Dhresthadyumna mengamuk dan pada hari ke 15 Drona gugur oleh Dhresthadyumna.

Karnaparwa adalah parwa yang ke delapan. Pada bagian ke 8 ini juga diceritakan Bima merobek dada Dursasana secara sadis dan meminum darah Dursasana. Pada hari ke 17, Karna terbunuh oleh Arjuna hingga terpenggal kepalanya.

Salyaparwa adalah bagian yang ke sembilan mengisahkan tentang Prabu Salya raja Mandraka menjadi panglima perang Kurawa namun hanya setengah hari gugur oleh tipu muslihat Nakula dan Sadewa. Hal tersebut dilakukan oleh Nakula dan Sadewa karena perintah Sri Kresna sebagai dalang Pandawa.

Dalam parwa yang ke sepuluh yaitu Sauptikaparwa, menceritakan perihal Aswatama putra Drona. Karena dendam, maka pada malam hari yang dinyatakan tidak perang itu, Aswatama masuk ke kemah-kemah membunuh semua yang ditemuinya, di antaranya Dresthadyumna. Dalam parwa ini diungkapkan bahwa Aswatama lari ke hutan dan berlindung di pertapaan Wiyasa. Keesokan harinya datanglah Pandawa ke pertapaan Wiyasa. Dalam pertemuan itu terjadi perang ramai antara Pandawa dan Aswatama yang kemudian dilerai oleh resi Wiyasa dan Kresna. Aswatama menyerahkan senjata dan kesaktiannya. Akhirnya Aswatama pergi menjadi pertapa. Striparwa adalah bagian yang ke sebelas, mengisahkan tentang Prabu Dhrestharastra, Pandawa, Kresna dan semua istri pada pahlawan datang di medan Tegal Kurukasetra. Mereka mencari suaminya masing-masing dan hari itu adalah hari tangis. Mereka menyesali kejadian itu. Semua jenasah para pahlawan yang ditemukan dibakar bersama.

Pada bagian yang ke duabelas yaitu Santiparwa menceritakan para Pandawa mencari pencerahan jiwa dan pembersihan diri. Sebulan lamanya Pandawa tinggal di hutan untuk membersihkan diri. Atas petunjuk resi Wiyasa dan Kresna, diharapkan Yudhistiraa agar mau memerintah di Hastina dan didukung oleh adik-adiknya. Wiyasa dan Kresna memberi wejangan tentang kewajiban dan kesanggupan manusia dan para ksatria sebagai generasi penerus. Akhirnya Yudhistira mau menjadi raja di istana Hastina serta mereka menunaikan tugas bersama.

Anusasanaparwa adalah bagian yang ke tigabelas. Parwa ini mengisahkan kejadian-kejadian sebagai penutup Bharatayuda dan wejangan dari Bisma terhadap Yudhistira. Dan akhirnya Bisma meninggal sesudah perang.

Dalam bagian yang ke empatbelas yaitu Aswamedaparwa mengisahkan prabu Yudhistira pada saat mengadakan selamatan untuk naik tahta kerajaan dengan cara membiarkan dan membebaskan kuda. Pembebasan kuda tersebut dilakukan selama satu tahun dengan penjagaan ketat, bagi siapa yang menggaggu kuda tersebut dihukum.

Asramawasanaparwa adalah bagian yang ke limabelas. Parwa ini mengisahkan tentang Drestharastra yang menarik diri dari keramaian dan ingin hidup di hutan dengan Gandari dan Kunthi juga ingin menjadi pertapa. Tetapi setelah hidup di hutan selama satu tahun lalu mereka mati karena hutan terbakar oleh api Drestharastra
sendiri.

Mausalaparwa adalah parwa yang ke enambelas. Parwa ini menceritakan musnahnya kerajaan Dwarawati akibat berkobarnya perang saudara antara kaum Yadawa atau bangsa kulit hitam (Wangsa Wresni). Wangsa ini lenyap karena saling perang dengan menggunakan gada alang-alang. Baladewa mati, Kresna lari ke hutan dan mati terbunuh dengan tidak sengaja oleh seorang pemburu. Parwa ke tujuhbelas disebut Prasthanikaparwa. Parwa ini menceritakan sesudah pemerintahan diserahkan ke cucunya Pandawa yang bernama Prabu Parikesit, maka Pandawa lima bersama-sama Dropadi menarik diri untuk menuju pantai. Satu demi satu mereka meninggal secara berurutan dari Dropadi, kemudian dari yang muda Sadewa , Nakula, Arjuna, Bima.

Tinggal Yudhistira dengan seekor anjing yang selalu mengikuti pengembaraan pada Pandawa. Batara Indra datang menjemput Yudhistira tetapi ditolak bila anjing tidak boleh ikut serta. Akhirnya anjingnyapun diperbolehkan ikut, maka masuklah Yudhistira ke Indraloka bersama Batara Indra. Sedangkan anjing itu masuk ke Sorgaloka berubah menjadi Sang Hyang Batara Darma / Hyang Suci.

Swargarohanaparwa adalah bagian yang ke delapanbelas atau parwa yang terakhir. Parwa ini menceritakan sewaktu Yudhistira ke Surga tidak bertemu dengan saudara-saudaranya, dan juga dengan Dropadi. Justru malah bertemu dengan kakak-kakaknya dari Hastina. Oleh karena itu dia mencari ke Neraka dan bertemu dengan adiknya-adiknya dalam penyiksaan. Namun dengan masuknya Yudhistira ke Neraka maka berbaliklah keadaannya. Neraka dibalik menjadi Surga. Sedangkan Surganya orang-orang Kurawa telah berbalik menjadi Neraka. Pandawa dan Dropadi tenteram di Sorgaloka. Dalam kitab Swargarohanaparwa ini memerlukan pengamatan khusus yaitu mengapa ada Nneraka dibalik menjadi Sorga? Sebaliknya mengapa ada Sorga dibalik menjadi Neraka?

Demikianlah kisah dari 18 parwa dalam kitab Mahabharata. Masih banyak sumber sastra lain seperti yang dibicarakan pada bagian sastra lakon. Itupun juga berupa sumber sastra-sumber sastra yang dapat dipakai sebagai sarana penggarapan lakon atau cerita dalam seni pertunjukan wayang kulit purwa Jawa pada umumnya.

Selasa, 25 Februari 2014

DI USIA YANG SUDAH TUA MASIH BISA JADI BINARAGA KALAU MINAT SEPERTI KAKEK SONY INI

Tubuh kakek yang satu ini tak terlihat seperti pria berusia lebih dari 40 tahun. Dia binaragawan dengan tubuh sempurna yang membuat banyak pria muda malu melihatnya. Terlebih bila mereka tahu usia sebenarnya, 70 tahun.
Sonny mengaku mulai menjadi binaragawan sejak usia 44 tahun, saat kondisi pernikahannya memburuk.
Awalnya, ia hanya pergi ke gym untuk menghilangkan stres. Ia bahkan tak tahu-menahu soal angkat beban atau olahraga berat lainnya. (Foto: Jon Michael Sullivan/The Augusta Chronicle).

DI SD DI CHINA BANGKU DIGANJAL BESI UNTUK MENDISPLINKAN MATA ANAK DIDIK BIAR TIDAK MUDAH RUSAK

Kebiasaan membaca terlalu dekat merupakan salah satu penyebab mata rabun. Sebuah SD di China punya cara ekstrem untuk mencegahnya, yakni memasang ganjal besi untuk menahan kepala para siswa agar tidak terlalu menunduk.
1. Ganjal besi tersebut dipasang di setiap meja, sehingga kepala akan terantuk saat menundukkan kepala terlalu rendah untuk membaca. (Foto: Quirky China News via Daily Mail) 

MUHIBIJA BULJUBASIC, MANUSIA YANG BISA MENEMPELKAN APA SAJA DI TUBUHNYA

Muhibija Buljubasic (56), pria asal Srebrenik, sebuah kota di bagian timur laut Bosnia dan Herzegovina, memiliki kemampuan unik yang membuat dirinya ibarat magnet. Bagaimana tidak, barang apapun bisa ditempelkan di tubuhnya, mulai dari busa, sendok, hingga telepon genggam.
Muhibija mengakui ia menemukan tubuhnya memiliki kemampuan layaknya magnet ini sejak lima tahun yang lalu. (Foto: Reuters)

PERJUANGAN BERAT CALON IBU YANG MAU MELAHIRKAN DARI LADAKH INDIA, 9 HARI JALAN KAKI DI GUNUNG ES

Penuh perjuangan, setiap wanita yang mau melahirkan asal Ladakh, India, harus menempuh perjalanan yang cukup berat untuk bisa sampai di rumah sakit terdekat di kota Lingshed. Tak tanggung-tanggung, mereka harus berjalan kaki melewati gunung es bersuhu -35 derajat Celcius selama 9 hari.