Selasa, 02 Maret 2010

BENDERA SETENGAH TIANG





Jakarta, Sua-02/03/2010/ at TT. Sunday, 16 March 2008

Ada mayat terbaring tak ada daya
Tak ada Bisa, Tak ada Sapa

Manusia itu dulu pemegang segala

Kakinya adalah hempasan Petani Tua
Tangannya adalah dendam Pahlawan Bangsa
Matanya adalah ketakutan Rakyat Jelata

Mahasiswa menjerit atas nama Demokrasi
Mahasiswa menjerit akan sakit hati

Politikus rakus merunduk di bawahnya
Yang diam tak sanggup menahan bencana
Ada pernah terjadi dimasanya

Hari ini dia Diam
Hari ini habis sudah peluru, belati, bambu runcing dan pisau gerigi

Ia mayat yang bebaring

Manusia itu kini bukan siapa-siapa

Kakinya adalah penuntunnya menuju pintu Illahi
Tangannya adalah pembicara hati Nurani
Matanya adalah ketakutannya sendiri

Rakyat kini maju sendiri

Sejarah hanyalah pencatat yang setia
Sejarah hanyalah pendengar yang berwibawa

Aku, Kamu dan kita.......
Adalah Demokrasi yang sebenarnya

Hari ini Bendera Sang Saka setengah Tiang

Bukan karena Setengah Hati
Tapi karena telah berjuang setengah mati

PAHLAWAN KESIANGAN


Ada sementara yang lain berjuang dalam pertaruhan hidup dan mati demi menghidupi anak dan isteri, mereka berjuang demi kesejahteraan bukan untuk dirinya sendiri tapi kesejahteraan untuk semua, kesejahteraan seluruh pegawai yang ada dalam naungan Serikat Pekerja Angkasa Pura I dan didalam lingkup usahanya yang membesarkan nama pegawainya dan kemapanan finansialnya hingga dapat mapan dalam bekerja dengan ruang kerja dengan status yang diakui oleh berbagai kalangan.
Sementara ada yang muncul dari belakang berteriak2 semua itu dari perjuanganku dari jerih payahku dan dari lobi2ku, kita toleh ke mereka siapakah yang berteriak dan layakkah dia berteriak seperti itu sementara kemarin yang lain berjuang mereka hanya menonton bertolak pinggang berleha-leha tiada mau peduli teman berjuang, yach mereka memang anggota Serikat Pekerja Angkasa Pura I tapi yang dalam status yang masih tanda koma yaitu orang yang tiada pernah mau ikut semua kegiatan organisasi dan selalu mengeluhkan tentang kekurangmapanan dirinya kepada organisasi katanya tiada pernah dilirik oleh pengusa, Setelah semuanya terjadi mereka maju kedepan bak pahlawan mengumandangkan suara kepongahan dan menginjak bendera organisasi yang pernah membesarkan dirinya, mengapa demikian karena sekarang mereka dilirik oleh penguasa sebagai alat untuk bertambat, mereka berlari dari organisasi dan menempelkan dirinya kepada penguasa serta menyuarakan suara kemenangannya dan mengklaim dirinya sebagai seorang yang telah menyelamatkan para karyawan dari arus deras terjerambabnya organisasi yang pernah mereka pimpin juga tetapi sekarang, mereka sudutkan sebagai langkah organisasi yang salah dirinya tampil kedepan membuat langkah bersama penguasa membentuk badan untuk menyaingi organisasi yang ada.
Penjilat dan penghianat adalah sebagai satu kesatuan yang kompak dalam berkolaberasi menentukan arah birahinya, menyepak menginjak dan menendang sebagai upaya pembenaran yang sah-sah saja untuk dirinya sekarang ini karena langkahnya selalu dibentengi oleh kaum penguasa, bertengger dalam bendera koalisi bentukan penguasa bak menyuarakan amanat penderitaan rakyat mengendus keikhlasan hati penguasa untuk sekedar memberinya harapan, lalu apa yang kamu lakukan saat ini, apa kontribusimu kepada rakyat, apa sumbangsihmu kepada perusahaan yang memberimu penghidupan ?
Sementara organisasi yang pernah membesarkannya diinjak2 oleh penguasa dirinya bergabung ikut menginjak-injak pula sambil berkatalah mereka ini organisasi yang akan membikin susah pegawai mereka sangat lupa bahwa ini organisasi yang pernah membesarkan nama pegawai Angkasa Pura I bahkan ini organisasi yang telah diakui dunia yang tergabung dalam PSI dan telah pula terdaftarkan ke Badan Dunia di PBB, sadarlah kawan kau yang lagi didaulat oleh jabatan dan pangkat bahwa manusia itu hidup bukan untuk selamanya, sadar dan insyaflah sebelum malaikan izrail datang menghampirimu berat pertanggungjawabanmu di akherat nanti yaitu alam yang akan kekal abadi kau selamanya disana kita sama2 manusia yang kelak juga akan kembali kepadanya dunia hanya sarana untuk kita melakukan apa yang disebut ibadah apapun yang kau buat selama untuk kebajikan umat manusia itu adalah ibadah dan itu sebagai bekalmu yang akan menemanimu di alam kekal nantinya tegakkan keadilan didunia ini (sama sebagai bentuk ibadah) singkirkan kebatilan, semoga Allah SWT. selalu membukakan pintu hatimu yang sedang tertutup

Senin, 01 Maret 2010

INI ADALAH SITUS SABARUDIN ACHMAD


Blog ini dibuat untuk renungan anak cucu bahwa seorang anak desa Sendang Rejo Kec. Ngimbang Kab. Lamongan yang bernama Sabarudin Achmad lahir tahun 1968 di desa Sendang Rejo Kecamatan Ngimbang Kabupaten Lamongan Jawa Timur dari pasangan M. Sahlan Baidhowi dan Djauharoh Tri Astuti, Ayah Kandung Asli Warga Desa Sendang Rejo dan Ibu adalah Warga dari Yogyakarta Hadiningrat tepatnya dari Karang Kajen, Penulis menempuh pendidikan formal tanpa melaluli TK karena dulu dijaman penulis belum ada TK di Kecamatan Ngimbang Baru setelah penulis Kelas 2 SD ada TK yang didirikan oleh Dharma Wanita dan Ibu Penulis pertama yang menjadi gurunya bersama mbak Titik, masuk pendidikan Sekolah Dasar di SD Sendang Rejo Ngimbang Lamongan Jawa Timur setalah menamat kan SD tahun 1981 melanjutkan ke SMP Negeri Ngimbang karena pada waktu Penulis SMP baru berdiri dan Sekolah belum mempunyai Gedung maka gedung yang digunakan selalu pindah-pindah karena menumpang pada SD yang pertama numpang di ST (Sekolah Teknik) yang sekarang dipakai Diknas karena diusir kemudian numpang di SD Inpres tepatnya samping lapangan slegi ngimbang tidak berapa lama juga karena sekolah dibongkar tanpa pemberitahuan sehingan kami harus keleleran di lapangan sementara guru bingung mencari pinjaman sekolahan akhirnya kami dapat di SD Druju Gurit dan cukup lama juga kami di SD tersebut sambil menunggu bangunan sekolah kami rampung akhirnya pada pertengahan kelas 2 SMP kami pindah ke Gedung Baru yang sampai sekarang dipakai sebagai SMP Negeri I Ngimbang Lamongan Jawa Timur, Kemudian penulis melanjutkan ke Jenjang Pendidikan Sekolah Lanjutan Atas (SMA) dan penulis di terima di SMA Negeri BABAT hal yang serupa terulang kembali karena SMA belum mempunyai Gedung sendiri maka Penulis Sekolahnya masih numpang2 dari pinjaman SD Negeri di daerah Gilang Baru karena penulis merupakan anak angkatan ke 3 dan sekolah baru belum cukup untuk menampung murid kelas 1 yang berjumlah 3 kelas kemudian setelah 1/2 semester gedung jadi penulis pindah menempati Sekolah yang sekarang disebut SMA Negeri I Babat selama bersekolah di BABAT penulis hidup terpisah dengan keluarga dan belajar hidup mandiri karenanya penulis pertama hidup di Pondok Pesantren Muhammadiyah Babat karena suasana kurang pas bagi penulis maka memutuskan untuk berhenti nyantri dan pindah mencari kontrakan yang dihuni rame2 dengan cara memasak sendiri untuk bertahan hidup hingga selesai sekolah selama 3 tahun, meniti perjalanan selesai menyelesaikan pendidikan SMA pada tahun 1988 penulis juga mendaftar di Sipenmaru (sistem Penerimaan Mahasiswa Baru) karena penulis melihat ekonomi keluarga dan kemampuan keluarga penulis tidak mendaftar di PT swasta saat itu penulis hanya daftar di Unibraw dan Gama yang jurusannya juga exclusive sehingga karena tidak ada embel2nya maka tidak dapat diterima sebagai mahasiswa baru karena dijaman penulis masalah suap juga sudah menjadi tradisi dalam setiap penerimaan mahasiswa baru, Sempat menganggur beberapa bulan penulis gunakan waktu untuk mengasah kemampuan dan hanya mencoba2 barangkali cocok berbisnis pertama ikut berjualan Tembakau, berjualan kayu dan ngobong gamping tapi semuanya ternyata tidak cocok dengan jiwa penulis kemudian penulis berniat keluar dari Desa Sendang Rejo Ngimbang dengan maksud ingin mencari pengalaman hidup di luar Desa, Pertama yang penulis tuju adalah Saudara yang berada di Bandung penulis sengaja ngenger untuk mencari hidup dapat beberapa bulan kemudian dibawa ke Jakarta tepatnya di Jakarta Pusat di Jl. Hati Suci Kebon Sirih Tanah Abang hidup tiada menentu nyari kerja kesana kemari belum ketemu dari perusahaan yang satu ke perusahaan yang satunya lagi selalu gagal yang namanya mencari kartu kuning Depnaker Petugasnya sampai hafal, kemudian penulis diboyong sepupu untuk pindah ke Cilandak bagi penulis tidak suatu masalah ikut ngenger asal penulis dapat mengembangkan kemampuan penulis, selama beberapa bulan diikutkan ke les mengetik di Jl. Griting III Kebayoran Baru Jakarta Selatan, setelah bisa mengetik penulis dimasukkan kerja sebagai PHL (Pegawai Harian Lepas) di TNI Angkatan Laut sebagai tenaga sipil dengan honor Rp. 30.000 per bulan hal itu dilakoni penulis hingga diangkat sebagai pegewai negeri sipil TNI AL tahun 1990 hal tersebut penulis tekuni hingga pada tahun 1992 penulis berkesempatan pindah ke PT. Angkasa Pura I (Persero) dan mulai tahun itu niatan hidup sebenarnya dari penulis tumbuh penulis mengambil kredit rumah dan pada tahun 1993 penulis minta ijin untuk hidup sendiri dan menempati rumah sendiri kemudian tahun 1994 Menikah dengan Sdr. Elly Agustiyaningrum, Spd. Putra ke 4 dari Alm. Bapak Suwiyono hingga sampai dengan sekarang ini penulis sudah dikaruniai 3 orang putra - putri, yang pertama Lisa Raqiqta Romafirsta yang kedua Hanifan Dinel Muttaqin dan yang ketiga Syifa Elsa Syazana harapan penulis agar nanti anak dan cucu penulis bisa memahami arti perjalanan hidup ini dan penulis berharap apa yang dapat kita petik dari suatu hikmah perjalanan hidup ini adalah karena semua sudah digariskan oleh Allah SWT. dan kita manusia ini sebagai hambanya yang doif tinggal menjalaninya saja.
Demikian untuk menjadi renungan Wassalam.





SABARUDIN ACHMAD