Manusia adalah mahluk paling sempurna yang diciptakan oleh Allah SWT. dengan diberikan bentuk yang paling indah diantara mahluk lain dan dari spesifikasi tubuh yang paling sempurna dibandingkan dengan mahluk lain, tapi kenap dibumi ini masih banyak manusia yang tidak memfungsikan diri sepenuhnya menjadi manusia.......?
Kita di berikan tubuh sebagai tubuh manusia beda dengan mahluk lain kepala layaknya manusia beda dengan mahluk lain diberikan mata, hidung, telinga yang kesemuanya dari bentuk manusia yang dibedakan dengan bentuk mahluk lain di jagad ini, kita harus bisa menjadi manusia seutuhnya itu adalah harapan Allah yang menciptakan kita untuk menjadi khalifah dimuka bumi ini kita hendaknya dapat menganalogikan diri kita dengan tanaman pisang yang sangat bermanfaat bagi orang banyak karena dari daunya dinamakan daun pisang, batangnyapun dinamakan batang pisang, kemudian buahnya dinamakan buah pisang sampai dengan dikupas kulitnyapun dinamakan pisang kemudian rasa buahnya berasa buah pisang.
Tapi manusia dimuka bumi ini lain banyak diantara manusia berbentuk manusia tapi alat kelaminnya berasa binatang, berbentuk manusia tapi tindakannya binatang dan semua kemauan dan tindak-tanduknya mengikuti nafsu binatang memakai tangan buat tanda-tangan tetapi kehendaknya yang dituruti hawa nafsu binatang sehingga hasilnya tidak manusiawi.
Blog ini dibuat sebagai sarana komunikasi dan catatan elektrik sebagai bahan sharing diantara kita
Kamis, 18 Maret 2010
Rabu, 17 Maret 2010
DIKUBUR 26 TAHUN JASAD MASIH UTUH KAIN KAFAN SANG KIAI UTUH DAN HARUM BAUNYA
Jumat, 21/08/2009 15:36 WIB
Deden Gunawan – detikNews
Deden Gunawan – detikNews
Jakarta - Tiga bak berisi air dan potongan kayu ukuran 70 cm x 30 cm telah disiapkan anak-anak almarhum KH. Abdullah. Saat itu, Minggu 2 Agustus 2009, makam Kiai Abdullah akan
dipindahkan lantaran di lokasi itu terkena proyek pelebaran Jalan Benda, Batu Ceper,
Tangerang, yang mengarah ke Bandara Soekarno Hatta, Jakarta.
Air yang ada di dalam bak itu rencananya akan digunakan untuk mencuci tulang belulang sebelum dipindahkan ke lokasi pemakaman yang baru. Sementara potongan kayu sengon sebanyak 9 potong diperuntukkan sebagai dinding pembatas jenazah di dalam liang lahat.
"Saya sudah beberapa kali melihat proses pemindahan kuburan di Karet Bivak, Jakarta
Pusat. Persiapannya memang seperti itu," kata Achmad Fathi, anak ketiga Kiai Abdullah.
Namun semua perlengkapan itu akhirnya tidak terpakai. Soalnya, ketika makam yang berusia 26 tahun digali, pemandangan aneh terjadi. Jasad Kiai Abdullah ternyata masih utuh. Begitu juga dengan kain kafan dan kayu penutup jenazah. Tidak ada tanda-tanda bekas gigitan rayap atau binatang tanah di kafan maupun di kayu kamper tersebut.
Sementara Mukhtar Ali, anak sulung Kiai Abdullah, yang mengangkat jenazah ayahnya dari liang lahat mengaku sempat kaget. Soalnya kondisi jenazah hampir sama seperti saat dikuburkan, 22 Oktober 1983 silam. "Kondisi jenazah persis sama seperti saat dikubur dulu.
Hanya tubuhnya agak menyusut saja, dan rambutnya memutih" jelas Mukhtar.
Mukhtar dan keluarganya semakin kaget, jenazah juga beraroma harum yang menyerbak. Wanginya, kata Mukhtar, tidak seperti parfum-parfum yang ada di toko-toko minyak wangi. Teriakan takbir pun langsung terdengar dari orang-orang yang menyaksikan kejadian tersebut.
Yang juga dirasa aneh oleh keluarga, ribuan warga tiba-tiba berdatangan mengikuti prosesi pemindahan jenazah. Padahal keluarga tidak memberi pemberitahuan kepada warga maupun murid-murid Kiai Abdullah. Mereka tiba-tiba saja datang.
"Awalnya pemindahan jenazah itu hanya dilakukan keluarga. Paling hanya 20 orang. Tapi nggak tahu kenapa tiba-tiba saat jenazah digali orang-orang sudah banyak berkumpul," ujar Mukhtar.
Saking banyaknya orang yang datang, imbuh Mukhtar, mobil dan motor pelayat yang terparkir di sisi jalan Benda, panjangnya mencapai 5 kilometer sehingga membuat kemacetan yang luar biasa di jalan tersebut.
Beberapa warga yang ditemui detikcom menuturkan, sebelum proses pemindahan jenazah, sebenarnya tanda-tanda keanehan sudah muncul terkait rencana pemindahan makam tersebut. Sebab saat alat berat
ingin menghancurkan musala dan bangunan makam, tidak bisa berfungsi. Beberapa kali alat pengeruk dari mobil beko patah ujung kukunya.
Karena kejadian itu, pihak kontraktor pelebaran jalan menunda pembongkaran yang rencananya akan dilakukan pada Januari 2009 itu. Pembongkaran baru bisa dilanjutkan awal Agustus setelah ada kesepakatan dengan keluarga. Salah satunya soal cara pembongkaran musala dan makam itu, yakni dengan hanya menggunakan palu dan linggis. Bukan pakai alat berat.
Keluarga Kiai Abdullah sebenarnya menyayangkan kalau musala itu dibongkar. Sebab musala yang telah ada sejak puluhan tahun lalu itu sangat dibutuhkan warga setempat untuk beribadah.
Musala yang berdiri di atas tanah wakaf itu sejak dibangun Kiai Abdullah tahun 1950-an sudah mengalami beberapa pemugaran dan pelebaran. Hingga menjadi semakin luas dan bangunannya menjadi permanen.
Namun pada 2007, Pemkot Tangerang ternyata punya rencana melakukan pelebaran jalan Benda, Juru Mudi, Batu Ceper, yang berada di sepanjang Sungai Cianjane. Musala dan makam itu kebetulan berada di lokasi yang akan dijadikan akses jalan sehingga terpaksa harus digusur.
Tanah yang akan digusur dihargai Rp 500 ribu per meter. Harga itu belum termasuk bangunan yang akan dibongkar. Tapi keluarga Kiai Abdullah menolak pemberian uang pengganti. Pasalnya , tanah tempat musala dan makam itu merupakan tanah wakaf yang tidak boleh diperjualbelikan.
Pihak keluarga hanya meminta Pemkot membangun kembali musala di sekitar wilayah Juru
Mudi, supaya warga setempat mudah kalau ingin beribadah. "Sepeser pun kami tidak menerima uang penggantian. Biaya pemindahan jenazah saja kami tanggung sendiri, sekalipun Pemkot sudah menawarkan" jelas Mukhtar, anak sulung Kiai Abdullah.
Kini jenazah Kiai Abdullah dimakamkan di depan pekarangan rumah Achmad Fathi, yang berjarak hanya 15 meter dari lokasi pemakaman sebelumnya. Di areal pemakaman baru itu terdapat tiga makam, yakni makam KH Abudullah bin Mukmin, makam istri keduanya Maswani, serta makam putra keduanya yang bernama M Syurur.
Rencananya, areal makam itu akan diperluas lantaran setiap hari banyak orang yang datang untuk berziarah, terutama setelah tersiar kabar jasad Kiai Abdullah masih utuh meski dikubur selama 26 tahun. Bahkan untuk memudahkan para peziarah, keluarga bermaksud membangun musala di samping areal makam.
(ddg/iy)
dipindahkan lantaran di lokasi itu terkena proyek pelebaran Jalan Benda, Batu Ceper,
Tangerang, yang mengarah ke Bandara Soekarno Hatta, Jakarta.
Air yang ada di dalam bak itu rencananya akan digunakan untuk mencuci tulang belulang sebelum dipindahkan ke lokasi pemakaman yang baru. Sementara potongan kayu sengon sebanyak 9 potong diperuntukkan sebagai dinding pembatas jenazah di dalam liang lahat.
"Saya sudah beberapa kali melihat proses pemindahan kuburan di Karet Bivak, Jakarta
Pusat. Persiapannya memang seperti itu," kata Achmad Fathi, anak ketiga Kiai Abdullah.
Namun semua perlengkapan itu akhirnya tidak terpakai. Soalnya, ketika makam yang berusia 26 tahun digali, pemandangan aneh terjadi. Jasad Kiai Abdullah ternyata masih utuh. Begitu juga dengan kain kafan dan kayu penutup jenazah. Tidak ada tanda-tanda bekas gigitan rayap atau binatang tanah di kafan maupun di kayu kamper tersebut.
Sementara Mukhtar Ali, anak sulung Kiai Abdullah, yang mengangkat jenazah ayahnya dari liang lahat mengaku sempat kaget. Soalnya kondisi jenazah hampir sama seperti saat dikuburkan, 22 Oktober 1983 silam. "Kondisi jenazah persis sama seperti saat dikubur dulu.
Hanya tubuhnya agak menyusut saja, dan rambutnya memutih" jelas Mukhtar.
Mukhtar dan keluarganya semakin kaget, jenazah juga beraroma harum yang menyerbak. Wanginya, kata Mukhtar, tidak seperti parfum-parfum yang ada di toko-toko minyak wangi. Teriakan takbir pun langsung terdengar dari orang-orang yang menyaksikan kejadian tersebut.
Yang juga dirasa aneh oleh keluarga, ribuan warga tiba-tiba berdatangan mengikuti prosesi pemindahan jenazah. Padahal keluarga tidak memberi pemberitahuan kepada warga maupun murid-murid Kiai Abdullah. Mereka tiba-tiba saja datang.
"Awalnya pemindahan jenazah itu hanya dilakukan keluarga. Paling hanya 20 orang. Tapi nggak tahu kenapa tiba-tiba saat jenazah digali orang-orang sudah banyak berkumpul," ujar Mukhtar.
Saking banyaknya orang yang datang, imbuh Mukhtar, mobil dan motor pelayat yang terparkir di sisi jalan Benda, panjangnya mencapai 5 kilometer sehingga membuat kemacetan yang luar biasa di jalan tersebut.
Beberapa warga yang ditemui detikcom menuturkan, sebelum proses pemindahan jenazah, sebenarnya tanda-tanda keanehan sudah muncul terkait rencana pemindahan makam tersebut. Sebab saat alat berat
ingin menghancurkan musala dan bangunan makam, tidak bisa berfungsi. Beberapa kali alat pengeruk dari mobil beko patah ujung kukunya.
Karena kejadian itu, pihak kontraktor pelebaran jalan menunda pembongkaran yang rencananya akan dilakukan pada Januari 2009 itu. Pembongkaran baru bisa dilanjutkan awal Agustus setelah ada kesepakatan dengan keluarga. Salah satunya soal cara pembongkaran musala dan makam itu, yakni dengan hanya menggunakan palu dan linggis. Bukan pakai alat berat.
Keluarga Kiai Abdullah sebenarnya menyayangkan kalau musala itu dibongkar. Sebab musala yang telah ada sejak puluhan tahun lalu itu sangat dibutuhkan warga setempat untuk beribadah.
Musala yang berdiri di atas tanah wakaf itu sejak dibangun Kiai Abdullah tahun 1950-an sudah mengalami beberapa pemugaran dan pelebaran. Hingga menjadi semakin luas dan bangunannya menjadi permanen.
Namun pada 2007, Pemkot Tangerang ternyata punya rencana melakukan pelebaran jalan Benda, Juru Mudi, Batu Ceper, yang berada di sepanjang Sungai Cianjane. Musala dan makam itu kebetulan berada di lokasi yang akan dijadikan akses jalan sehingga terpaksa harus digusur.
Tanah yang akan digusur dihargai Rp 500 ribu per meter. Harga itu belum termasuk bangunan yang akan dibongkar. Tapi keluarga Kiai Abdullah menolak pemberian uang pengganti. Pasalnya , tanah tempat musala dan makam itu merupakan tanah wakaf yang tidak boleh diperjualbelikan.
Pihak keluarga hanya meminta Pemkot membangun kembali musala di sekitar wilayah Juru
Mudi, supaya warga setempat mudah kalau ingin beribadah. "Sepeser pun kami tidak menerima uang penggantian. Biaya pemindahan jenazah saja kami tanggung sendiri, sekalipun Pemkot sudah menawarkan" jelas Mukhtar, anak sulung Kiai Abdullah.
Kini jenazah Kiai Abdullah dimakamkan di depan pekarangan rumah Achmad Fathi, yang berjarak hanya 15 meter dari lokasi pemakaman sebelumnya. Di areal pemakaman baru itu terdapat tiga makam, yakni makam KH Abudullah bin Mukmin, makam istri keduanya Maswani, serta makam putra keduanya yang bernama M Syurur.
Rencananya, areal makam itu akan diperluas lantaran setiap hari banyak orang yang datang untuk berziarah, terutama setelah tersiar kabar jasad Kiai Abdullah masih utuh meski dikubur selama 26 tahun. Bahkan untuk memudahkan para peziarah, keluarga bermaksud membangun musala di samping areal makam.
(ddg/iy)
AL MUNAFIQUN
idzaa jaa-aka lmunaafiquuna qaaluu nasyhadu innaka larasuulullaahi walaahu ya'lamu innaka larasuuluhu walaahu yasyhadu inna lmunaafiqiina lakaadzibuun
[63:1] Apabila orang-orang munafik datang kepadamu, mereka berkata: "Kami mengakui, bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul Allah". Dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul-Nya; dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya orang-orang munafik itu benar-benar orang pendusta
ittakhadzuu aymaanahum junnatan fashadduu 'an sabiilillaahi innahum saa-a maa kaanuu ya'maluun[63:2] Mereka itu menjadikan sumpah mereka sebagai perisai, lalu mereka menghalangi (manusia) dari jalan Allah. Sesungguhnya amat buruklah apa yang telah mereka kerjakan
dzaalika bi-annahum aamanuu tsumma kafaruu fathubi'a 'alaa quluubihim fahum laa yafqahuun [63:3] Yang demikian itu adalah karena bahwa sesungguhnya mereka telah beriman, kemudian menjadi kafir (lagi) lalu hati mereka dikunci mati; karena itu mereka tidak dapat mengerti
wa-idzaa ra-aytahum tu'jibuka ajsaamuhum wa-in yaquuluu tasma'liqawlihim ka-annahum khusyubun musannadatun yahsabuuna kulla shayhatin 'alayhim humu l'aduwwu fahtsarhum qaatalahumullaahu annaa yu/fakuun[63:4] Dan apabila kamu melihat mereka, tubuh-tubuh mereka menjadikan kamu kagum. Dan jika mereka berkata kamu mendengarkan perkataan mereka. Mereka adalah seakan-akan kayu yang tersandar. Mereka mengira bahwa tiap-tiap teriakan yang keras ditujukan kepada mereka. Mereka itulah musuh (yang sebenarnya) maka waspadalah terhadap mereka; semoga Allah membinasakan mereka. Bagaimanakah mereka sampai dipalingkan (dari kebenaran)?
wa-idzaa qiila lahum ta'aalaw yastaghfir lakum rasuulullaahi lawwaw ruuusahum wara-aytahum yashudduuna wahum mustakbiruun[63:5] Dan apabila dikatakan kepada mereka: Marilah (beriman), agar Rasulullah memintakan ampunan bagimu, mereka membuang muka mereka dan kamu lihat mereka berpaling sedang mereka menyombongkan diri.
sawaaun 'alayhim astaghfarta lahum am lam tastaghfir lahum lan yaghfirallaahu lahum innallaaha laa yahdii lqawma lfaasiqiin
[63:6] Sama saja bagi mereka, kamu mintakan ampunan atau tidak kamu mintakan ampunan bagi mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.
humulladziina yaquuluuna laa tunfiquu 'alaa man 'inda rasuulillaahi hattaa yanfadhdhuu walillaahi khazaa-inu ssamaawaati wal-ardhi walaakinna lmunaafiqiina laa yafqahuun[63:7] Mereka orang-orang yang mengatakan (kepada orang-orang Anshar): "Janganlah kamu memberikan perbelanjaan kepada orang-orang (Muhajirin) yang ada disisi Rasulullah supaya mereka bubar (meninggalkan Rasulullah)." Padahal kepunyaan Allah-lah perbendaharaan langit dan bumi, tetapi orang-orang munafik itu tidak memahami
yaquuluuna la-in raja'naa ilaa lmadiinati layukhrijanna l-a'azzu minhaa l-adzalla walillaahi l'izzatu walirasuulihi walilmu/miniina walaakinna lmunaafiqiina laa ya'lamuun[63:8] Mereka berkata: "Sesungguhnya jika kita telah kembali ke Madinah, benar-benar orang yang kuat akan mengusir orang-orang yang lemah dari padanya." Padahal kekuatan itu hanyalah bagi Allah, bagi Rasul-Nya dan bagi orang-orang mukmin, tetapi orang-orang munafik itu tiada mengetahui
yaa ayyuhaalladziina aamanuu laa tulhikum amwaalukum walaa awlaadukum 'an dzikrillaahi waman yaf'al dzaalika faulaa-ika humu lkhaasiruun [63:9] Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang merugi.
wa-anfiquu min maa razaqnaakum min qabli an ya/tiya ahadakumu lmawtu fayaquula rabbi lawlaa akhkhartanii ilaa ajalin qariibin fa-ashshaddaqa wa-akun mina shshaalihiin[63:10] Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata: "Ya Rabb-ku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh?"
walan yu-akhkhirallaahu nafsan idzaa jaa-a ajaluhaa walaahu khabiirun bimaa ta'maluun
[63:11] Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila telah datang waktu kematiannya. Dan Allah Maha Mengenal apa yang kamu kerjakan.
Selasa, 16 Maret 2010
AURAT
Indahnya wanita bila menutup auratnya, karena disamping akan mempercantik pemakainya penutup aurat juga dapat melebihkan kharismatik dari pemakainya karena akan menambah daya tarik serta rasa hormat kaum adam kepada wanita yang berbusana muslimah tersebut
Jumat, 12 Maret 2010
Nenek Renta Itu Berubah Jadi Kodok
Jumat, 12 Maret 2010 | 08:28 WIB
Laporan Wartawan Tribun Pontianak, Severianus Endi
PONTIANAK, KOMPAS.com — Legenda ini diperkirakan terjadi sekitar seratusan tahun lalu. Seorang nenek renta dalam masyarakat Dayak Punan, Kalimantan Timur, tiba-tiba berubah menjadi kodok dan hingga sekarang keturunan generasi kedua hidup di tengah-tengah masyarakat.
Wakil Ketua Persekutuan Lembaga Adat Dayak Punan Kaltim, Dollop Mamung (54), sangat yakin legenda itu bukan isapan jempol. Selain dirinya berasal dari suku Dayak Punan, Dollop juga kenal baik dengan satu di antara cucu sang nenek yang menuturkan kisah tersebut.
"Impian saya yang belum terwujud, yakni mengunjungi hutan rimba yang menjadi lokasi nenek tua itu berubah menjadi kodok," tutur Dollop dalam perbincangan dengan Tribun, Kamis (11/3/2010) di Kota Pontianak, Kalimantan Barat (Kalbar).
Dollop merupakan delegasi masyarakat adat yang baru usai mengikuti sebuah workshop kehutanan di Kota Pontianak, Kalbar. Legenda yang lekat dalam budaya masyarakat Punan itu erat kaitannya dengan kearifan tradisi menjaga kelestarian hutan.
"Waktu itu, sekelompok keluarga hidup di sekitar hutan Marut. Mereka tidak berladang, tetapi hidup secara mubut. Artinya, hidup berpindah-pindah untuk berburu dan meramu," ucap Dollop memulai kisahnya.
Dalam kelompok kecil orang-orang Punan itu, ada seorang nenek renta atau adu' oroh dalam bahasa lokal. Saking rentanya, setiap kali kelompok itu berpindah tempat, adu' oroh digendong di punggung menggunakan kalong.
Kalong merupakan alat semacam keranjang terbuat dari rotan yang digunakan sebagai wadah hasil meramu. Suatu hari, adu' oroh meminta dirinya ditinggalkan saja di sebuah pondok.
"Adu' oroh kasihan dengan anak-cucunya yang kerepotan harus selalu menggendong dia. Tentu saja keluarganya menolak, tapi dia terus mendesak," kata Dollop.
Dengan terpaksa, anak-cucunya meninggalkan nenek itu di sebuah pondok. Namun, mereka selalu menjenguknya setiap usai mubut. "Tiga hari kemudian, ketika dijenguk, adu' oroh masih ada di pondok itu. Sepekan dan dua pekan, juga masih ada. Nah, sebulan kemudian, tiba-tiba saja adu' oroh lenyap," kata Dollop yang mendapatkan kisah ini dari cucu generasi kedua adu' oroh bernama Jonidy Apan (40) yang kini menjadi Kepala Adat Punan Kecamatan Sekatak, Kabupaten Bulungan.
Para anak-cucunya pun gempar dan segera mencari di sekitar pondok. Sosok renta yang sangat mereka cintai itu tak kunjung ditemukan.
"Sampai di bebatuan di pinggir Sungai Magong, mereka melihat selembar berat, yakni tikar khas Punan dari rotan. Di atas berat itu ada seekor ja'ui atau kodok besar," ujar Dollop yang juga mantan Ketua Harian Yayasan Adat Punan (YAP) ini.
Memang, ja'ui yang rata-rata bisa mencapai seberat 1 kilogram itu umum ditemukan di hutan sekitar. Tapi, kodok besar yang satu ini aneh dan istimewa.
Dia bisa berkata-kata layaknya manusia. Kodok besar itu duduk sambil menangis di atas tikar rotan yang terhampar di bebatuan tersebut.
"Jangan mencari saya. Inilah saya, adu' oroh kalian. Saya tidak apa-apa, jangan kalian risau," begitu ucapan sang kodok kepada sanak keluarga yang panik mencari dirinya.
Sang nenek berpesan agar anak-cucunya menjaga hutan itu dari kerusakan. Itu sebabnya, masyarakat Punan di situ tak melakukan pola berladang.
Hingga saat ini, masih ada komunitas Dayak Punan yang tinggal di sana dan tetap hidup dengan cara mubut. Lokasi itu persisnya di hutan Marut, Sungai Blusuh, Kecamatan Sekatak, Kabupaten Bulungan.
Dulu, hutan rimba yang masih asli dan kaya keanekaragaman hayati itu mencapai ribuan hektar luasnya. Tetapi kini tinggal tersisa sekitar 50 hektar saja karena telah "dikepung" konsesi perusahaan kayu ataupun kelapa sawit.
"Sudah beberapa kali cucu adu' oroh mengajak saja ke lokasi itu untuk menjumpai ja'ui itu. Sayang belum pernah terealisasi. Kalau ikut serta cucunya, kita bisa bertemu beliau," kata Dollop.
Jarak hutan Marut sekira dua hari perjalanan dari Kecamatan Sekatak, Kabupaten Bulungan, Kalimantan Timur. Kombinasi jalan kaki dan naik perahu kayuh di Sungai Magong, menembus hutan belantara.
Sejumlah bukti kian membuat Dollop yakin dengan kebenaran kisah itu. Sudah beberapa karyawan perusahaan dikabarkan hilang saat melakukan survei di hutan itu. Setelah dicari-cari, jangankan jenazahnya, jejaknya pun sama sekali tak berbekas.
"Makanya sampai sekarang, tinggal tersisa areal hutan Marut itu yang belum berani dirambah orang. Beberapa surveyor mereka hilang tak ada kabarnya. Adu' oroh tak suka hutan itu dirusak," katanya.
Karena legenda itu pula, keturunan adu' oroh tak boleh mengonsumsi daging kodok itu. Satwa itu memang dikenal memiliki habitat di kawasan tersebut.
Bagi kalangan masyarakat yang tak punya hubungan dengan adu' oroh, daging ja'ui bisa dijadikan lauk. Asalkan kulit dan tulangnya dipisahkan dulu sebab mengandung racun. (*
Laporan Wartawan Tribun Pontianak, Severianus Endi
PONTIANAK, KOMPAS.com — Legenda ini diperkirakan terjadi sekitar seratusan tahun lalu. Seorang nenek renta dalam masyarakat Dayak Punan, Kalimantan Timur, tiba-tiba berubah menjadi kodok dan hingga sekarang keturunan generasi kedua hidup di tengah-tengah masyarakat.
Wakil Ketua Persekutuan Lembaga Adat Dayak Punan Kaltim, Dollop Mamung (54), sangat yakin legenda itu bukan isapan jempol. Selain dirinya berasal dari suku Dayak Punan, Dollop juga kenal baik dengan satu di antara cucu sang nenek yang menuturkan kisah tersebut.
"Impian saya yang belum terwujud, yakni mengunjungi hutan rimba yang menjadi lokasi nenek tua itu berubah menjadi kodok," tutur Dollop dalam perbincangan dengan Tribun, Kamis (11/3/2010) di Kota Pontianak, Kalimantan Barat (Kalbar).
Dollop merupakan delegasi masyarakat adat yang baru usai mengikuti sebuah workshop kehutanan di Kota Pontianak, Kalbar. Legenda yang lekat dalam budaya masyarakat Punan itu erat kaitannya dengan kearifan tradisi menjaga kelestarian hutan.
"Waktu itu, sekelompok keluarga hidup di sekitar hutan Marut. Mereka tidak berladang, tetapi hidup secara mubut. Artinya, hidup berpindah-pindah untuk berburu dan meramu," ucap Dollop memulai kisahnya.
Dalam kelompok kecil orang-orang Punan itu, ada seorang nenek renta atau adu' oroh dalam bahasa lokal. Saking rentanya, setiap kali kelompok itu berpindah tempat, adu' oroh digendong di punggung menggunakan kalong.
Kalong merupakan alat semacam keranjang terbuat dari rotan yang digunakan sebagai wadah hasil meramu. Suatu hari, adu' oroh meminta dirinya ditinggalkan saja di sebuah pondok.
"Adu' oroh kasihan dengan anak-cucunya yang kerepotan harus selalu menggendong dia. Tentu saja keluarganya menolak, tapi dia terus mendesak," kata Dollop.
Dengan terpaksa, anak-cucunya meninggalkan nenek itu di sebuah pondok. Namun, mereka selalu menjenguknya setiap usai mubut. "Tiga hari kemudian, ketika dijenguk, adu' oroh masih ada di pondok itu. Sepekan dan dua pekan, juga masih ada. Nah, sebulan kemudian, tiba-tiba saja adu' oroh lenyap," kata Dollop yang mendapatkan kisah ini dari cucu generasi kedua adu' oroh bernama Jonidy Apan (40) yang kini menjadi Kepala Adat Punan Kecamatan Sekatak, Kabupaten Bulungan.
Para anak-cucunya pun gempar dan segera mencari di sekitar pondok. Sosok renta yang sangat mereka cintai itu tak kunjung ditemukan.
"Sampai di bebatuan di pinggir Sungai Magong, mereka melihat selembar berat, yakni tikar khas Punan dari rotan. Di atas berat itu ada seekor ja'ui atau kodok besar," ujar Dollop yang juga mantan Ketua Harian Yayasan Adat Punan (YAP) ini.
Memang, ja'ui yang rata-rata bisa mencapai seberat 1 kilogram itu umum ditemukan di hutan sekitar. Tapi, kodok besar yang satu ini aneh dan istimewa.
Dia bisa berkata-kata layaknya manusia. Kodok besar itu duduk sambil menangis di atas tikar rotan yang terhampar di bebatuan tersebut.
"Jangan mencari saya. Inilah saya, adu' oroh kalian. Saya tidak apa-apa, jangan kalian risau," begitu ucapan sang kodok kepada sanak keluarga yang panik mencari dirinya.
Sang nenek berpesan agar anak-cucunya menjaga hutan itu dari kerusakan. Itu sebabnya, masyarakat Punan di situ tak melakukan pola berladang.
Hingga saat ini, masih ada komunitas Dayak Punan yang tinggal di sana dan tetap hidup dengan cara mubut. Lokasi itu persisnya di hutan Marut, Sungai Blusuh, Kecamatan Sekatak, Kabupaten Bulungan.
Dulu, hutan rimba yang masih asli dan kaya keanekaragaman hayati itu mencapai ribuan hektar luasnya. Tetapi kini tinggal tersisa sekitar 50 hektar saja karena telah "dikepung" konsesi perusahaan kayu ataupun kelapa sawit.
"Sudah beberapa kali cucu adu' oroh mengajak saja ke lokasi itu untuk menjumpai ja'ui itu. Sayang belum pernah terealisasi. Kalau ikut serta cucunya, kita bisa bertemu beliau," kata Dollop.
Jarak hutan Marut sekira dua hari perjalanan dari Kecamatan Sekatak, Kabupaten Bulungan, Kalimantan Timur. Kombinasi jalan kaki dan naik perahu kayuh di Sungai Magong, menembus hutan belantara.
Sejumlah bukti kian membuat Dollop yakin dengan kebenaran kisah itu. Sudah beberapa karyawan perusahaan dikabarkan hilang saat melakukan survei di hutan itu. Setelah dicari-cari, jangankan jenazahnya, jejaknya pun sama sekali tak berbekas.
"Makanya sampai sekarang, tinggal tersisa areal hutan Marut itu yang belum berani dirambah orang. Beberapa surveyor mereka hilang tak ada kabarnya. Adu' oroh tak suka hutan itu dirusak," katanya.
Karena legenda itu pula, keturunan adu' oroh tak boleh mengonsumsi daging kodok itu. Satwa itu memang dikenal memiliki habitat di kawasan tersebut.
Bagi kalangan masyarakat yang tak punya hubungan dengan adu' oroh, daging ja'ui bisa dijadikan lauk. Asalkan kulit dan tulangnya dipisahkan dulu sebab mengandung racun. (*
Kamis, 11 Maret 2010
Lelaki Cerdas Lebih Suka Monogami
Lelaki cerdas alias yang memiliki tingkat IQ tinggi jarang membohongi istrinya dan lebih suka memilih monogami. Sebuah penelitian baru menunjukkan lelaki cerdas lebih suka hubungan seks yang eksklusif dengan satu orang.
Peneliti Inggris meneliti perilaku lelaki cerdas ini yang menempatkan monogami dan hubungan seks yang eksklusif. Perilaku ini berbeda dengan teman-teman yang seumuran mereka tapi memiliki tingkat kecerdasan yang kurang.
Tapi hubungan antara moralitas perilaku seks konvensional dan tingkat intelijen tidak tercermin pada wanita. Peneliti tidak menemukan bukti bahwa perempuan yang lebih cerdas dalam populasi umum akan lebih setia.
Penelitian pola-pola perilaku tersebut dilakukan oleh Dr Satoshi Kanazawa dari London School of Economics and Political Science yang hasilnya telah dipublikasikan dalam jurnal Social Psychology Quarterly edisi Maret.
Dalam penelitiannya Dr Kanazawa menganalisa dua survei utama di AS yang berhubungan dengan perilaku sosial dan tingkat IQ yang telah dilakukan terhadap ribuan partisipan mulai remaja hingga orang dewasa.
"Sebagai analisis empiris, hasil penelitian menunjukkan bahwa lelaki dengan tingkat kecerdasan tinggi cenderung monogami dan menilai hubungan seksual adalah eksklusivitas dibandingkan dengan laki-laki yang kurang cerdas," bunyi kesimpulan hasil penelitian Dr Kanazawa seperti dilansir dari Telegraph, Selasa (2/3/2010).
Dr Kanazawa mengklaim bahwa hubungan antara tingkat kecerdasan dan monogami oleh pria cerdas itu terkait dengan perkembangan evolusi perilaku yang terjadi.
Dalam evolusi perilaku tersebut, dunia moderen memandang tidak ada lagi keuntungan memiliki hubungan seksual dengan banyak mitra. Dan orang-orang cerdas mampu melepaskan beban psikologis tersebut dengan mengadopsi cara-cara berperilaku yang baru.
Sebelumnya, Profesor Martha Bailey dan Bita Amani dari Queen's University menyebutkan bahwa istri dan anak akan menjadi korban dalam rumah tangga kerika seorang suami memilih untuk melakukan poligami.
"Mereka lebih banyak mengalami depresi dan stres karena perasaan cemburu. Mereka juga cenderung menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga," ujar Bailey.
Sementara suami yang melakukan poligami mendapat pemenuhan seks yang baik, istri yang dipoligami justru menderita karena harus menghadapi kenyataan suaminya berbagi seks dengan wanita lain dan kemungkinan penyakit menular seksual.
Ketika seorang wanita depresi, pola pengasuhan anaknya pun menjadi kacau. Dan itu akan memberi dampak negatif bagi anak. Anak juga berisiko mengalami trauma dan dikucilkan oleh teman-temannya. Perilaku mereka pun menurut peneliti lebih sulit terkontrol karena peran ayah menjadi berkurang.
Sumber: detikcom
Selasa, 09 Maret 2010
5 Kunci Sukses dalam menghadapi Permasalahan Hidup
1. Siap
2. Ridho
3. Jangan mempersulit diri
4. Evaluasi diri
5. Pasrah kepada Allah SWT.
1. S i a p
Dalam menghadapi kehidupan ini kita dituntut untuk siap dalam menghadapi permasalahan apapun yang akan datang menimpa kepada kita, baik itu permasalahan yang akan membuat kita bahagia maupun permasalahan yang akan membuat kita sengsara dan menderita, karenanya kita harus siap menghadapinya karena semua permasalahan yang timbul bukan karena tiba2 dikarenakan semua sudah direncanakan oleh Allah SWT. tinggal kita manusia saja yang harus pinter menyikapinya adakalanya manusia yang karena tidak siap sampai mati2 memperjuangkannya misalnya Allah mengasih kita jabatan karena masa waktu jabatan memang sudah berakhir maka seharusnya kita sebagai manusia harus seap untuk itu kita lepaskan jabatan itu toh sebelumnya kita juga bukan pejabat kita jalani saja dengan alami tidak malah stress terus mencari cara bagaimana sebaiknya jabatan itu agar tetap dapat melekat pada diri kita, niah itu yang dinamakan kita tidak pernah siap menghadapi masalah.
2. Ridho
Kita harus ridho dengan semua permasalahan yang ditimpakan terhadap diri kita karena semuanya juga Allah SWT. yang telah mengaturnya, asalkan kita selalu Ridho insyaallah tidak akan menimbulkan masalah baru dalam menyelesaikan permasalahan, Seperti halnya kasus jabatan diatas asal kita ridho nggak ada masalah karena semua sudah berjalan semestinya seperti contohnya kita bermain golf di padang golf, entah apa penyebabnya tiba2 bola golf mampir dimuka kita kalau dipikir lapangan golf sebegitu besarnya kenapa harus mendarat dimuka kita, apa iya kita harus memaki2 yang memukul bola....? apa iya kita juga tidak ikut bersalah ......? lalu kenapa kita harus ada dilapangan golf....? Nah hal tersebut asal kita cermati dan kita tetap ridho insyaallah tidak ada masalah yang timbul, karena kalau kita mau menolak toh nggak bisa karena bola golf sudah mendarat dimuka kita mau kita ulangi untuk tidak kena bola golfpun tidak bisa karena manusia tidak diberi kekuasaan mengembalikan masa lalu, jadi yang bisa kita lakukan kita Ridho saja dengan apa yang menimpa pada kita.
3. Jangan mempersulit diri
Kita dianjurkan untuk melakukan hal diatas sebagaimana item 1 dan 2, dengan menerima apa adanya dan tidak didramatisir dan dibuat2 sehingga akan menyulitkan diri kita sendiri nantinya, Seperti halnya kasus diatas kalau kita siap dan ridho selesai sudah permasalahan paling lama 1 - 2 minggu sudah sembuh seperti semula, akan halnya kalau kita tidak siap dan ridho kita permasalahkan hal yang menimpa kita, misalkan kita caci maki si pemukul bola golf kita meja hijaukan dia karena ketidak termiaan kita, apa iya sipemukul bola golf tadi menerima ketidak terimaan kita ...? Apa iya dia tidak ada upaya untuk menghentikan tindakan kita...? Nah kalau hal seperti ini dibikin panjang maka akan panjang menguras energi dn materi hal yang harusnya bisa tuntas dalam waktu 1 - 2 minggu akan menyusahkan diri kita kalau kita membikin sulit permasalahan kita sendiri mungkin akan selesai 1 - 2 bulan atau 1 - 2 tahun bahkan kalau saling tidak puas bisa berlanjut terus, ini namanya kita mempersulit diri kita sendiri, Kalau bisa dipermudah kenapa harus dibikin sulit itu mungkin perkataan yang lagi tren sekarang .
4. Evaluasi Diri
Kita harus sadar dan mengevaluasi hal-hal apa yang telah terjadi pada diri kita supaya kita mendapat kepuasan dengan apa yang telah kita jalani, Karena semua yang terjadi didunia ini bukan karena tiba2 melainkan semua yang terjadi sudah digariskan oleh Allah SWT. maka dengan demikian kita akan sadar betul bahwa kita sebagai umat manusia ini ibarat wayang semuanya terserah dalangnya mau dibikin tayang kita ada mau dibikin tidur kita dimasukkan ke kotak.
5. Pasrah kepada Allah SWT.
Kalau semua sudah kita jalani dari item 1 sampai dengan 4 sudah kita laksanakan dan pada diri kita sama sekali tidak terdapat perubahan akan hal yang kita terima minimal agak meringankan beban hati kita, maka kita dianjurkan untuk tetap tabah dan tawakal kepada Allah SWT., kita pasrahkan semuanya kepada Allah SWT yang menghidupkan kita dan yang akan mematikan kita karena semua Allah SWT yang berkehendak maka kita tinggal menjalaninya saja
Demikian rangkuman dari 5 pokok jalan sukses menghadapi hidup yang penulis olah sendiri dari ceramah Abdullah Gymnastiar pada Maulid Nabi SAW di Grha Angkasa Pura I tanggal 8/3/2010 semoga dapat menjadi cerminan diri dari penulis khususnya dan bagi semua yang berkenan membacanya
2. Ridho
3. Jangan mempersulit diri
4. Evaluasi diri
5. Pasrah kepada Allah SWT.
1. S i a p
Dalam menghadapi kehidupan ini kita dituntut untuk siap dalam menghadapi permasalahan apapun yang akan datang menimpa kepada kita, baik itu permasalahan yang akan membuat kita bahagia maupun permasalahan yang akan membuat kita sengsara dan menderita, karenanya kita harus siap menghadapinya karena semua permasalahan yang timbul bukan karena tiba2 dikarenakan semua sudah direncanakan oleh Allah SWT. tinggal kita manusia saja yang harus pinter menyikapinya adakalanya manusia yang karena tidak siap sampai mati2 memperjuangkannya misalnya Allah mengasih kita jabatan karena masa waktu jabatan memang sudah berakhir maka seharusnya kita sebagai manusia harus seap untuk itu kita lepaskan jabatan itu toh sebelumnya kita juga bukan pejabat kita jalani saja dengan alami tidak malah stress terus mencari cara bagaimana sebaiknya jabatan itu agar tetap dapat melekat pada diri kita, niah itu yang dinamakan kita tidak pernah siap menghadapi masalah.
2. Ridho
Kita harus ridho dengan semua permasalahan yang ditimpakan terhadap diri kita karena semuanya juga Allah SWT. yang telah mengaturnya, asalkan kita selalu Ridho insyaallah tidak akan menimbulkan masalah baru dalam menyelesaikan permasalahan, Seperti halnya kasus jabatan diatas asal kita ridho nggak ada masalah karena semua sudah berjalan semestinya seperti contohnya kita bermain golf di padang golf, entah apa penyebabnya tiba2 bola golf mampir dimuka kita kalau dipikir lapangan golf sebegitu besarnya kenapa harus mendarat dimuka kita, apa iya kita harus memaki2 yang memukul bola....? apa iya kita juga tidak ikut bersalah ......? lalu kenapa kita harus ada dilapangan golf....? Nah hal tersebut asal kita cermati dan kita tetap ridho insyaallah tidak ada masalah yang timbul, karena kalau kita mau menolak toh nggak bisa karena bola golf sudah mendarat dimuka kita mau kita ulangi untuk tidak kena bola golfpun tidak bisa karena manusia tidak diberi kekuasaan mengembalikan masa lalu, jadi yang bisa kita lakukan kita Ridho saja dengan apa yang menimpa pada kita.
3. Jangan mempersulit diri
Kita dianjurkan untuk melakukan hal diatas sebagaimana item 1 dan 2, dengan menerima apa adanya dan tidak didramatisir dan dibuat2 sehingga akan menyulitkan diri kita sendiri nantinya, Seperti halnya kasus diatas kalau kita siap dan ridho selesai sudah permasalahan paling lama 1 - 2 minggu sudah sembuh seperti semula, akan halnya kalau kita tidak siap dan ridho kita permasalahkan hal yang menimpa kita, misalkan kita caci maki si pemukul bola golf kita meja hijaukan dia karena ketidak termiaan kita, apa iya sipemukul bola golf tadi menerima ketidak terimaan kita ...? Apa iya dia tidak ada upaya untuk menghentikan tindakan kita...? Nah kalau hal seperti ini dibikin panjang maka akan panjang menguras energi dn materi hal yang harusnya bisa tuntas dalam waktu 1 - 2 minggu akan menyusahkan diri kita kalau kita membikin sulit permasalahan kita sendiri mungkin akan selesai 1 - 2 bulan atau 1 - 2 tahun bahkan kalau saling tidak puas bisa berlanjut terus, ini namanya kita mempersulit diri kita sendiri, Kalau bisa dipermudah kenapa harus dibikin sulit itu mungkin perkataan yang lagi tren sekarang .
4. Evaluasi Diri
Kita harus sadar dan mengevaluasi hal-hal apa yang telah terjadi pada diri kita supaya kita mendapat kepuasan dengan apa yang telah kita jalani, Karena semua yang terjadi didunia ini bukan karena tiba2 melainkan semua yang terjadi sudah digariskan oleh Allah SWT. maka dengan demikian kita akan sadar betul bahwa kita sebagai umat manusia ini ibarat wayang semuanya terserah dalangnya mau dibikin tayang kita ada mau dibikin tidur kita dimasukkan ke kotak.
5. Pasrah kepada Allah SWT.
Kalau semua sudah kita jalani dari item 1 sampai dengan 4 sudah kita laksanakan dan pada diri kita sama sekali tidak terdapat perubahan akan hal yang kita terima minimal agak meringankan beban hati kita, maka kita dianjurkan untuk tetap tabah dan tawakal kepada Allah SWT., kita pasrahkan semuanya kepada Allah SWT yang menghidupkan kita dan yang akan mematikan kita karena semua Allah SWT yang berkehendak maka kita tinggal menjalaninya saja
Demikian rangkuman dari 5 pokok jalan sukses menghadapi hidup yang penulis olah sendiri dari ceramah Abdullah Gymnastiar pada Maulid Nabi SAW di Grha Angkasa Pura I tanggal 8/3/2010 semoga dapat menjadi cerminan diri dari penulis khususnya dan bagi semua yang berkenan membacanya
Langganan:
Postingan (Atom)






